Bhikkhu Jinadhammo Mahathera

Bhikkhu Jinadhammo Mahathera

Riwayat hidup Bhikkhu Jinadhammo Mahathera
Tanggal : 18 Oktober 2002
Pengarang : DHARMA PRABHA©2000

PERJALANAN SOSOK PENGABDI BUDDHA DHAMMA DI BUMI ANDALAS
Riwayat Y.M. Jinadhammo Maha Thera
Kelahiran dan Masa Remaja
Terlahir di desa Gempok Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali di Jawa Tengah pada tanggal 3 September 1944 dari pasangan Bapak Adma M. dan Ibu Sadiem. Suatu proses kelahiran yang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Dan yang pasti kedua orang tua tersebut tidak pernah menyangka kalau putera ke-3 dari 6 bersaudara ini bakal menjadi seorang anggota Sangha yang cukup dihormati di Indonesia khususnya di Rayon I Sumatera Utara.

Bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Sunardi, tumbuh menjadi seorang bocah. Masa kecil Sunardi boleh dibilang tak terlalu dinikmatinya, maklum selain keadaannya sendiri yang sering sakit-sakitan, situasi pada saat itu juga tidak memungkinkan. Walaupun Indonesia telah merdeka tapi sekutu masih menguasai negara kita, suasana perang membuat Sunardi kecil dan keluarganya harus selalu berpindah-pindah. Kadang ke Timur, kadang ke Barat, Utara dan Selatan yang penting menghindar ke arah berlawanan dari suara senapan. Bukan hanya ketakutan yang dirasakan tapi kelaparan juga kerap kali menghantui warga kampung. Pada waktu itu, makan nasi dengan lauk kacang sudah merupakan suatu yang patut disyukuri dan terasa sangat nikmat. Tapi walaupun keadaan susah di masa perang, Sunardi berhasil menyelesaikan pendidikannnya di Sekolah Rakyat (Sekarang SD. RED). Semasa di Sekolah Rakyat, Sunardi sangat menyukai kerajinan tangan, ketrampilannya mengukir batu dan batok kelapa serta membuat anyaman daun pandan menjadi topi dll, setidaknya dapat menghiburnya untuk melupakan suasana perang. Selain mempunyai kelebihan di kerajinan tangan ternyata Sunardi juga senang di bidang olahraga. Olahraga yang dipilih yakni atletik, lompat jauh dan lompat tinggi. Kegiatan sekolah memang menyita waktunya, tapi biarpun begitu sepulang sekolah Sunardi selalu membantu orang tuanya di sawah. Sekali waktu ia menerima upahan dari para tetangga untuk mengembalakan ternak kerbau dan kambing. Dan sambil menunggui gembalaannya merumput, lagi-lagi Sunardi meneruskan kesukaannya yakni mencari batu atau sesuatu yang bisa digunakan untuk diukir.

Waktu terus berlalu, setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Rakyat, Sunardi melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yakni SMP. Walau terlahir dari keluarga sederhana, tapi Sunardi punya kemauan belajar yang keras. Paruh waktu sepulang sekolah dipakai dengan menjadi tenaga cukur bayaran. Sunardi paling suka mencukur rambut orang. Yang pasti tempat untuk mencukur itu harus dekat dengan warung makanan. Upahnya tak beliin kue, habis.. kenang Beliau sambil tertawa.

Tak heran kalau sampai sekarang keahlian mencukur Bhante masih digunakan. Bhante itu kalau mencukur cepat sekali aku salah seorang anggota pabbaja yang pernah dicukur Bhante yaitu Sdr. Upa. Wan Hui. Dari kecil, Sunardi paling senang bila ada pesta atau keramaian. Karena bila ada keramaian, itu pertanda bakal diadakan pertunjukkan wayang kulit, mengidolakan tokoh Arjuna, tapi tak pernah melewatkan tokoh-tokoh lain. Bagi Sunardi yang penting ada acara Wayang dan ia dengan betah akan menonton acara tersebut hingga malam melarut dan walaupun menjelang subuh.

Pada masa remaja Sunardi bersama teman-temannya sering mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan yang tidak jauh dari rumahnya. Di candi-candi tersebut banyak sekali gambar relief dan patung yang sangat indah di sepanjang dinding candi. Setelah melihat semua keindahan yang ada di candi tersebut, sejumlah pertanyaan terasa mengelitik di dada. Siapakah yang membuatnya? Untuk apa bangunan tua itu dan apa manfaatnya ? Pertanyaaan demi pertanyaan senantiasa menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya. Mungkin karena karma Sunardi telah berbuah, melalui seorang rekannya dari Bandung ia mendapat kiriman majalah Lembaran Mutiara Minggu (LMM) yang isinya memuat 4 agama besar di Indonesia yakni Islam, Kristen, Hindu dan Buddha. Setelah membaca majalah tersebut barulah Sunardi mengenal apa yang disebut agama Buddha. Akhirnya jawaban dari setiap pertanyaan yang timbul tentang relief-relief dan patung-patung tersebut menggambarkan kebesaran agama Buddha di Indonesia pada zaman dahulu kala yakni zaman Sriwijaya dan Majapahit.

Ternyata Sunardi tidak puas dengan jawaban tersebut, Sunardi terus mempelajari agama Buddha melalui majalah LMM yang selalu dikirim kepadanya. Semakin banyak yang dibaca dan dihayati maka akhirnya Sunardi mengambil kesimpulan bahwa dari ke-4 agama yang ada, agama Buddhalah yang menjadi pilihan keyakinannya. Sunardi merasa Buddha Dharma semakin menarik dan semakin terasa begitu menentramkan, membahagiakan. Satu kesempatan yang membawa langkahnya ke kota Kembang (Bandung), mempertemukan Sunardi dengan Y.A. Maha Anayaka Sthavira Ashin Jinarakkhita Maha Thera. Dari Beliaulah Sunardi mulai mempelajari paritta-paritta suci dan Dharma. Sejak saat itulah Sunardi lebih aktif mempelajari Buddha Dharma. Berkat kemauan dan ketekunan hati yang kuat terhadap agama Buddha, maka dalam waktu singkat Sunardi telah menguasai paritta-paritta suci dan kemudian Sunardi ditunjuk sebagai pemimpin kebaktian mahasiswa-mahasiswi serta pemuda-pemudi di Vihara Vimala Dharma Bandung.

Pada tahun 1962, Sunardi mulai memasuki organisasi agama Buddha di Bandung. Oleh Bhante Ashin, Sunardi ditunjuk mendampingi beliau dalam mengembangkan agama Buddha baik dari pulau Jawa maupun di luar Jawa yaitu di Sumatera.

Setelah satu tahun di Bandung, Sunardi ditugaskan oleh Bhante Ashin untuk mengabdi di Sumatera, Padang dan Pekan Baru. Selah mengabdi selama 3 tahun, Sunardi pun menerima Visudhi Trisarana dan tak lama kemudian dilantik menjadi upasaka di Pekan Baru. Berlatih Vippassana-Bhavana Di bawah bimbingan langsung Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, Sunardi beserta puluhan peserta lainnya mengikuti suatu pelatihan Vipassana Bhavana secara intensif. Pelatihan berlangsung dengan disiplin yang ketat dan keras. Ada peserta yang setelah berlatih lebih kurang 2 minggu mengalami kejadian lucu dan unik. Ketika mendengar ada suara penjual ice cream lewat di depan vihara, tiba-tiba saja ia berlari ke depan vihara. Ia membeli ice cream kemudian sambil bernyanyi-nyanyi dan menari, ia mengajak peserta pelatihan untuk menikmati ice cream juga. Tentu saja ia dianggap gagal dalam pelatihan.

Sunardi sendiri punya pengalaman yang sangat berkesan dalam pelatihan tersebut. Ia sehari-harinya pembersih dan paling tidak suka melihat tempat yang kotor dan tidak dibersihkan. Dalam pelatihan ini, ia terusik dengan keberadaan sarang laba-laba di tempatnya berlatih. Seperti biasanya, ia segera tergerak untuk membersihkan sabut. Tetapi belum sempat kejadian, tiba-tiba suara Bhikkhu Ashin telah menggeledek: Pergunakan waktumu sebaik-baiknya, goblok… Bentakan itu meninggalkan kesan yang kuat bagi Sunardi. Dan ternyata, setelah pelatihan berakhir, hanya Sunardi bersama 4 orang lainnya yang dinyatakan lulus di antara sekian puluh orang peserta.

Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan dirinya sendiri dalam hal-hal yang patut dan selanjutnya melatih orang lain. Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan dicela. (Dhammapada, 1996; Atta Vagga:158)

Ketika masih menjadi seorang Upasaka, Sunardi sering mendampingi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita berkeliling Sumatera (Indonesia) sebagai Upataka dan orang yang bisa menjadi Upataka Bhante Ashin pada waktu itu (1960 s/d 1970an) sudah dianggap hebat oleh umat Buddha Indonesia. Pada masa 1960 sampai 1970-an, Bhikkhu Indonesia masih sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari tangan. Tidak heran jika Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sebagai putra Indonesia pertama yang menjadi Bhikkhu sejak 500 tahun terakhir setelah runtuhnya keprabuan Majapahit sering memberi motivasi kepada murid-murid beliau agar mau menjadi anggota Sangha. Beliau benar-benar serius untuk membangkitkan kembali agama Buddha yang tertidur selama 5 abad.

Sunardi pada waktu menjadi pengikut Bhikkhu Ashin juga sering didesak untuk segera menjadi samanera. Saat itu ia belum bersedia. Dan ini berulang-ulang sampai kurun 6 tahun lamanya. Sunardi masih berkeras hati tidak mau menjadi samanera. Suatu ketika, mungkin karena sudah habis kamus, Bhikkhu Ashin berkata pada pemuda Sunardi: Mengapa bukan Jenderal Gatot Subroto? Mengapa Jenderal Sumantri? Mengapa bukan Maha Upasaka Mangun Kawotjo yang menjadi Bhikkhu untuk membangkitkan agama Buddha? Mengapa saya yang menjadi Bhikkhu? Itu karena saya membayar hutang. Demikian pertanyaan yang dilontarkan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita kepada Sunardi, dan yang kemudian dijawab oleh beliau sendiri.

Mendengar pertanyaan Bhikkhu Ashin tersebut, Sunardi yang asli pemuda berdarah Jawa seperti Jendral Gatot Subroto, Sumantri, dan M.U. Mangun Kawotjo, merasa tergugah batinnya. Ia pun membulatkan tekad untuk menjadi anggota Sangha. Dan tekadnya mendapat restu dari orang tua dan saudaranya.

Upasampada Sunardi kemudian ditabhiskan menjadi samanera oleh Bhante Ashin dengan nama Samanera Dhammasushiyo. Pada saat menjadi seorang Samanera, Bhante Ashin pernah mengatakan kepada Beliau, “Kamu sebenarnya sudah terpilih menjadi seorang Bhikkhu yang mengemban tugas untuk perkembangan Buddha Dhamma. Akhirnya Samanera Dhammasushiyo mengambil keputusan untuk menjadi seorang Bhikkhu. Bersama dengan 4 orang Samanera lain, Samanera Dhammasushiyo di Upasampada. Kelima Samanera itu adalah sebagai berikut:
S. Jinasuryabhumi (U.P. Dhamapala, Nirihuwa Bernandus, lahir minggu, 10 Januari 1904, nama Bhikkhu : Aggajinamitto).
S. Pandita Dhammasila (Tan Hiap Kik), lahir minggu, 10 Februari 1918, nama Bhikkhu Uggadhammo.
S.Dhammavijaya (Tjong Khouw Siw), lahir Jumat, 20 Desember 1935, nama Bhikkhu : Sirivijayo.
S.Dhammasushiyo (Sunardi), lahir Selasa, 03 September 1944, nama Bhikkhu : Jinadhammo.
S.Djumadi, lahir Jumat 19 Desember 1946, nama Bhikkhu : Saccamano.

Upacara Upasampada bertempat di Candi Borobudur tepat pada hari Waisak, yang mana pentabhishan tersebut dilakukan oleh :
1.Upajoyo (Ven. Chaukun Sasana Sobhana/Somdet/Wakil Sangha Raja/Nyanaworasa sekarang Sangha Raja.
2.Achariya (Ven. Pra Guru Palat Nukik/Chaukun Dhamma \ Boru/Dhammaduta untuk Indonesia di Jakarta).
3.Kamavaca (Ven. Chaukun Dhamma Sobhana)
4.Upa. Saksi (Ven. Bhikkhu Kantipalo/Inggris)
5.Upa. Saksi (Ven. Viriya Cariya/Australia)
6.Upa. Saksi (Ven. Subhato/Indonesia)

Pada saat Sinivijaya dan Jinadhammo meminta upasampada sesaat langit seakan berubah, angin bertiup kencang menimbukan bayangan gelap di awan. Dan akhirnya upasampada ke-2 Bhikkhu tersebut selesai sekitar pukul 04.52 sore.

Belajar ke Wat Bovoranives Vihara

Berbekal tekad yang bulat dan kemampuan berbahasa Inggris (hasil kursus), tak lama setelah Upasampada, Bhante Jin (panggilan akrab Bhikkhu Jinadhammo) kemudian berangkat ke Negara Gajah Putih, Muangthai. Bhante Jin pergi ke Wat Bovoranives Vihara untuk belajar di bawah bimbingan guru-guru beliau.

Bhante Jin mengkhususkan pada pelajaran Vinaya. Selain itu juga berlatih meditasi pada guru meditasi yang mumpuni(ahli). Setelah hampir 2 tahun belajar di Bangkok, baru Bhante Jin berani mengunjungi tempat berlatih meditasi yang terkenal keras. Bhante Jin pergi ke daerah Udon thani, sebelah Timur Laut dari kota Bangkok. Beliau mendatangi Wat Patibat (tempat praktek meditasi) yang dipimpin oleh Ajahn Boowa, seorang Master Meditasi yang terkenal.Wat Ban Tad (Dibaca menurut lidah orang Indonesia) adalah nama vihara hutan tersebut. Ini merupakan salah satu pusat meditasi yang sangat terkenal di Muangthai selain Wat Ba Phong tempat Ajahn Chah. Bhante Jin pernah 2 kali retreat di Wat Ban Tad. Ajahn Boowa adalah seorang master meditasi yang terkenal memiliki kemampuan abhinna yang luar biasa. Tahun-tahun terakhir ini Ajahn Boowa melakukan gerakan Rakyat Menyelamatkan Negara. Beliau berkampanye mengumpulkan sumbangan dari rakyat untuk disumbangkan kepada negara yang sedang mengalami krisis ekonomi yang berat seperti negara Indonesia. Dan rakyat Thai berduyun-duyun menyumbangkan melalui Ajahn Boowa. Sudah milyaran dolar Amerika (dalam bentuk uang dan emas batangan) yang diserahkan Ajahn Boowa kepada pemerintah. Sewaktu belajar di Muangthai, setiap harinya Bhante Jin minum air hujan (mungkin itu sebabnya maka beliau cepat sekali ompong). Pada saat itu, Vihara di Muangthai belum memiliki air ledeng dari PAM (Perusahaan Air Minum)

Ketika tinggal di vihara hutan, juga mengalami bagaimana sederhananya kehidupan para Bhikkhu di sana. Pagi-pagi sekali sudah keluar untuk Pindapatta (menerima dana makanan) dari rumah ke rumah. Dari setiap rumah, seorang Bhikkhu menerima nasi ketan secuil. Ini dikumpulkan menjadi banyak. Lauknya biasanya adalah daging kodok rebus atau ulat kelapa (orang Jawa bilang : Gendon)

Bhikkhu Theravada dalam Pindapatta menerima apa saja makanan yang diberikan umat termasuk daging (yang memenuhi 3 syarat daging yang bersih). Seorang Bhikkhu hanya menerima makanan dari daging apabila :
1. Ia tidak melihat pembunuhan terhadap makhluk tersebut.
2. Ia tidak mendengar bahwa pembunuhan makhluk tersebut adalah untuk dirinya.
3. Ia tidak menduga bahwa makhluk itu mati karena dagingnya akan didanakan untuk dirinya.

Kembali ke Indonesia Setelah 3 tahun belajar di kerajaan Muangthai, Bhante Jin dipanggil pulang ke Indonesia oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita (Sukong). Bhante Jin diminta untuk membantu perkembangan agama Buddha di Indonesia.

Sewaktu baru pulang ke Indonesia, Bhante Jin pernah diajak seorang umat Buddha dari Tulung Agung, Jawa Timur ke Gunung Willis. Orang tersebut dipanggil Om Yan oleh Bhante Jin. Ia mempunyai tanah perkebunan di lereng Gunung Willis. Bhante Jin diajak menginap di kebunnya Om Yan tersebut. Tinggal di pondok sendirian. Malam tidak ada lampu. Gelap gulita. Suara satwa malam pun mendirikan bulu roma. Tengah malam Om Yan mengintip ke dalam gubuk Bhante Jin. Bhante Jin belum tidur waktu itu. Ada apa Om Yan? Tengah malam kok ngintip-ngintip? tegur Bhante Jin tiba-tiba. Om Yan ketawa terbahak-bahak.
Saya cuma ingin tahu apa Bhante berani enggak ditinggal sendirian di gubuk.

Om Yan yang waktu itu berumur 60-an, kemudian mengajak Bhante Jin tinggal di sebuah vihara yang dikelolanya di daerah Tulung Agung. Bhante Jin diberi sebuah kamar aneh untuk kuti. Lantai kamar itu tidak rata. Banyak batu-batu persegi dan bulat yang timbul di atas permukaannya. Bhante Jin menginap di kamar tersebut beberapa malam dengan tenang.

Suatu siang Om Yan datang bersama keluarganya. Apakah Bhante merasa tenang tinggal di vihara ini ? tanya Om Yan. Tenang. Tenang sekali. Jawab Bhante Jin. Bhante bisa tidur nyenyak ? tanya Om Yan dengan mimik wajah yang ganjil. Oh … bisa… bisa. Jawab Bhante Jin. Kenapa rupanya tanya Bhante Jin kembali. Ah, tidak ada apa-apa koq. Cuma nanya saja. Jawab Om Yan senyum-senyum mencurigakan. Di vihara tersebut memang suasananya sangat sepi dan sunyi di hari biasa. Kecuali pada hari kebaktian umum. Jika malam hari, suasananya benar-benar senyap.

Bhante Jin tinggal di vihara tersebut dengan seorang penjaga vihara yang rada-rada aneh. Tetap penjaga vihara tersebut tidak pernah mau jika diajak tidur di kamar berlantai aneh tempat Bhante Jin. Saya tak berani tidur di situ. Katanya polos. Kenapa rupanya ? Kamarnya kan luas. Kata Bhante Jin. Penjaga vihara tersebut diam saja. Tidak berani berbicara. Setelah cukup waktunya, Om Yan datang kembali untuk menjemput Bhante Jin. Om Yan bertanya tentang kesehatan Bhante. Apa Bhante sehat-sehat saja ? tanya Om Yan sambil tersenyum. Sehat jawab Bhante Jin singkat. Selama tidur di kamar tersebut apa ada kejadian aneh ? tanya Om Yan dengan nada menyelidiki. Tidak ada. Sepertinya biasa-biasa saja koq. Wah ! Bhante ini hebat ya. Biasanya enggak ada yang berani tidur di kamar itu. Lho, ada apa dengan kamar itu ? Apa Bhante belum tahu ? Di situ kan ada batu-batu menonjol di lantai. Bhante tahu batu apa itu ? tanya Om Yan serius. Wah, mana saya tahu. Saya hanya heran untuk apa batu-batu itu dibuat? Begini Bhante, tapi ini sebenarnya rahasia. Kamar itu sebenarnya lokasi kuburan. Batu-batu itu sebagai tandanya. Jawab Om Yan. Oh ! Begitu rupanya. Kok saya tidak diberitahu dulu ? Ha… ha … ha… Itu kan untuk menguji Bhante. Jadi, ya, tidak diberitahu. Jawab Om Yan gembira.

Bertugas Di Sumatera
Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sebagai pimpinan Sangha kemudian menugaskan Bhante Jin ke Sumatera. Daerah pembinaan Bhante Jin meliputi Sumatera Utara, Riau, Aceh dan Padang. Bhante Jin menetap di Vihara Borobudur, Medan.

Pada saat itu (1970-an) masih sedikit sekali vihara dan cetiya. Seiring perjalanan waktu dan pengabdian Bhante Jin, di daerah-daerah pun mulai berdiri vihara-vihara dan cetiya. Semangat umat Buddha kian hari kian menggelora. Sekolah-sekolah pun mulai meminta tenaga guru agama Buddha.

Bhante Jin sering diminta oleh daerah-daerah untuk mengirimkan tenaga pengajar Agama Buddha, baik untuk sekolah maupun vihara. Bhante Jin kemudian bersama-sama dengan Bapak Giriputra berusaha mendatangkan tenaga-tenaga pengajar Agama Buddha dari Pulau Jawa.

Guru-guru Agama Buddha yang datang dari Pulau Jawa kemudian dikirim bertugas ke daerah-daerah. Dan mereka-mereka ini diangkat sebagai upasaka pandita oleh Bhante Jin agar dapat memberikan pelayanan kepada umat mewakili Sangha. Tersebutlah Romo Pandita Widyaputra Suwidi Sastro Atmojo yang berjasa merintis pendirian Vihara Buddha Jayanti di Rantau Prapat, Romo Pandita Kumala di Kisaran, Pak Dharmanto di Kota Medan, dan lain-lain.

Pabbajja-Samanera

Pada masa awal Bhante Jinadhammo tinggal di Vihara Borobudur Medan, beliau sering harus masak sendiri. Waktu itu belum ada yang bantu masak di vihara. Vihara Borobudur sendiri di awal 1970-an masihlah sangat sederhana. Dapurnya masih berdinding triplek dan beratap rumbia. Tidak setiap hari umat memasak untuk Bhante. Kadang Bhante Jinadhammo hanya makan mie instant. Bhante Jinadhammo Maha Thera tinggal di vihara bersama Bapak Wirawan Giriputra dan Bapak Otong Hirawan. Mereka dikenal sebagai Tiga Serangkai yang saling bahu-membahu memajukan agama Buddha di Medan dan daerah-daerah lainnya.

Bhante sering dibonceng pakai sepeda motor saja oleh almarhum Romo Dharmavirya atau Romo Dharmaloka ke vihara-vihara lain, seperti : Vihara Dharma Wijaya Medan, Vihara Buddha Ramsai Deli Tua, dan lain-lain. Hasil latihan di Muangthai maupun kebiasaan hidup sederhana sejak kecil, sangatlah membantu Bhante dalam menjalani pengabdian kepada Buddha-Dhamma dan umat. Bhante Jin adalah Bhikkhu yang sangat mudah dilayani, fleksibel, simpel, dan humoris. Tidak neko-neko. Tetapi ketat terhadap vinaya yang dilatih pada diri sendiri.

Mulai awal 1980-an, sudah ada yang tertarik mengikuti pelatihan Pabbajja-Samanera di bawah bimbingan Beliau. Orang pertama, seorang pilot bernama Diono yang berlatih selama 3 minggu. Selanjutnya Romo Kumala Kusumah, guru agama Buddha di Perguruan Diponegoro Kisaran, berlatih selama 1 bulan. Orang ke-3 mahasiswa UDA Medan yang Drop-out. Yang ke-4, Kassapa dari Riau. Yang ke-5 dan 6, dua putra Romo Surya dari Rantau Prapat. Orang ke-7 dan ke-8, Yap Ik Sen dan Edy dari P.M.B. Dhammacari Medan. Ke-9, Tolip. Ke-10 dan ke-11, Cin Huat (Albert Kumala) dan Sin Kiat (sekarang Bhikkshu Nyana Prabhassa).

Pada tahun 1988 telah diselenggarakan program pabbajja-Samanera massal pertama untuk Rayon I Sangha Agung Indonesia, diselenggarakan di Vihara Avalokitesvara yang berada di tepi laut Teluk Tapian Nauli Sibolga. Angkatan I ini diikuti oleh 38 peserta. Angkatan II tahun 1989, di tempat yang sama, diikuti 37 orang peserta dari Sangha Agung Indonesia Rayon I, Rayon II, dan Rayon XII (seluruh Sumatera). Dan Angkatan III tahun 1990, di tempat yang sama, diikuti oleh 108 orang peserta dari seluruh Indonesia.

Program Pabbajja-Samanera massal ini telah berlanjut setiap tahun secara rutin. Semua itu berkat inisiatif Romo U.P. Padmajaya Ombun Natio dan Romo Pandita W.Giriputra.

Dalam setiap penyelenggaraan Program Pabbajja-Samanera tersebut, juga diikuti oleh peserta wanita yang menjalankan Atthangika-Sila dan berjubah putih. Dan yang menjadi Uppajjhaya (Guru pentahbis) dalam setiap angkatan adalah Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera. Dari setiap penyelenggaraan Program Pabbajja-Samanera massal (nasional) tersebut, selalu ada peserta yang tidak lepas jubah. Beberapa orang tetap menjadi samanera di bawah bimbingan Bhante. Beberapa tahun terakhir ini beberapa samanera tersebut dikirim Bhante untuk belajar ke Muangthai. Mereka di Upasampada menjadi Bhikkhu di Vihara Wat Bovoranives.

Tampaknya benih yang ditanam Bhante Jinadhammo Maha Thera mulai berbuah sekarang. Jatah lima belas kepala Bagi peserta Pabbajja-Samanera yang sempat dicukur oleh Bhante Jinadhammo, tentu memiliki kesan yang tak dapat dilupakan. Bhante Jinadhammo benar-benar terampil dan ahli di dalam mencukur botak kepala calon Samanera maupun Bhikkhu. Crak ! Crok ! Craaak !! Croook!!!… demikian suara yang ditimbulkan pisau cukur yang digunakan Bhante di kepala yang sedang dibotak licinkan. Orang yang sedang dicukur bisa kembali mendengarnya. Serasa kulit kepala ikut terkelupas. Tetapi herannya tidak terasa sakit, hanya agak aneh. Namun sepanjang pencukuran yang berlangsung cepat sekali. Craak! Crook! Crak! Crok!, jantung ini terasa ketar-ketir dan empot-empotan.
Tak banyak orang tahu bahwa Bhante Jinadhammo Maha Thera mempunyai reputasi tersendiri di dalam mencukur botak-licin kepala Bhikkhu dan Samanera. Beliau bahkan sempat dipuji oleh seniornya dari Inggris yang terkenal, Bhikkhu Khantipalo, yang bertugas mengawasi Bhikkhu-Bhikkhu Internasional di Wat Bovoranives, Bangkok, Muangthai. Jinadhammo, kamu lebih hebat dari saya meskipun saya lebih senior. Kamu bisa mencukur rambut sendiri, sedangkan saya harus dibantu orang lain, kata Bhikkhu Khantipalo suatu kali. Itu terjadi setelah telinga beliau tercukur pisau ketika ia mencoba bercukur sendiri. Telinganya mengeluarkan banyak darah. Untung saja tidak sampai dijahit dokter. Lho, Bhante kan sudah berlatih vippassana. Kalau hati-hati tentu bisa mencukur sendiri, jawab Bhante Jinadhammo.

Karena memiliki keahlian mencukur rambut, maka Bhante Jinadhammo kemudian dipercaya untuk mencukur rambut 15 orang Bhikkhu dan Samanera setiap bulannya. Jadi setiap bulan menjelang hari Uposattha, bulan purnama, Bhante Jinadhammo diberi jatah mencukur botak 15 kepala Bhikkhu dan Samanera yang tinggal di Wat Bovoranives.

Pekan Penghayatan Dharma
Setelah diselenggarakan program Pabbajja-Samanera massal, yang biasanya dilaksanakan pada bulan Juni-Juli ketika liburan sekolah, kegiatan pelatihan lainnya di Rayon I Sangha Agung Indonesia (Sumut, Riau, Aceh, Padang) mulai ikut terdorong. Pada akhir bulan Desember 1990, telah diselenggarakan SADHARSI (Sapta Dharma Ratana Ramsi) Angkatan I di Vihara Buddha Ramsi Delitua, Deli Serdang. Pelatihan berlangsung selama 7 hari diikuti 23 orang peserta, melaksanakan Atthanga-Sila dan berjubah putih. Kegiatan ini dipimpin dan dibimbing oleh Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera dan Bhikkhu Prajna Nyana Nanda (almarhum). Materi pelatihan meliputi : sila, pembacaan Paritta dan Sutra, Dharma Class, dan vippassana-bhavana intensif 3 hari. Pelatihan yang berlangsung sepekan ini kemudian juga diadakan di daerah-daerah lainnya. Bahkan kemudian ada pelatihan yang berlangsung 3 hari dan satu hari dengan memanfaatkan hari-hari libur nasional, seperti yang dilakukan oleh PMV Dharma Wijaya Medan dengan bimbingan Bhikkhu Kampiro.

Program Latih Diri Vippassana Bhavana
Pada akhir Desember 1996, Bhante Jinadhammo membimbing pelatihan Vippassana-Bhavana intensif selama 7 hari di Hutan Kebon Sawit milik Pak Husin, Rantau Prapat-Labuhan Batu, Sumut. Lokasi tempat berlatih cukup terisolir. Medannya cukup menggetarkan nyali orang kota yang jarang turun ke desa, kebun, dan hutan. Apalagi bagi yang sama sekali belum pernah turun ke desa/hutan. Tanggung jawab guru pembimbing sungguh berat dalam pelatihan ini. Lokasi pelatihan berada di tengah-tengah alam kebun sawit yang berdampingan dengan hutan. Peserta yang pria dan wanita semua tidur dalam pondok masing-masing, menjalankan Atthanga Sila, makan satu kali sehari. Tidak boleh berbicara, mengurangi tidur. Mengembangkan kesadaran terhadap segala fenomena yang timbul dan tenggelam. Peserta diberi kesempatan bertanya pada waktu sore hari kepada pembimbing jika ada hambatan yang tidak dapat diatasi. Malam hari di lokasi diberi penerangan dengan lampu badai (lampu kapal). Suara satwa hutan siang dan malam terus menerus memainkan orkestra alam, nyanyian alam itu bisa terdengar seperti suara pembacaan sutra (nien cing; liam keng).

Sebagai pembimbing, Bhante Jinadhammo siang malam mengawasi dan menjaga semua peserta dari gangguan-ganggguan yang tidak diharapkan. Beliau bahkan sempat tidak tidur. Pada Vippassana-Bhavana Angkatan I masih banyak peserta yang belum mampu melaksanakan latihan secara baik. Dan banyak gangguan yang dialami. Namun sekitar 30 orang peserta latihan semuanya sehat selamat sampai akhir pelatihan. Bhante Jin sendiri berkata, Semua peserta bisa keluar dengan selamat, sudah boleh dikatakan sukses pelatihan ini. Pelatihan Angkatan II diselenggarakan di Kebun Sawit Pak Kasim di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan. Jumlah peserta juga berkisar 30 orang. Jika peserta angkatan I umumnya dari medan dan Rantau Prapat, angkatan II pesertanya meliputi wilayah Sumatera Utara. Pada angkatan II mulai nampak peningkatan kesungguhan berlatih peserta dan lebih tertib. Tampaknya gangguan yang ada relatif sedikit dibandingkan dengan pada angkatan I. Hanya faktor cuaca yang dingin di malam hari terutama dini hari, sedang siangnya panas menyengat sebab pohon sawit yang ada masih setinggi lebih kurang satu meter. Peserta sebagian besar tidur dalam tenda, sebagian kecil dalam pondok. Selesai latihan, peserta dibawa berziarah ke Candi Bahal Portibi, Gunung Tua. Setelah pelatihan Angkatan II, tercetus ide untuk mendirikan vipassana centre, yang kelak diharapkan dapat menjadi tempat berlatih yang lebih baik dalam program Vipassana Bhavana yang akan datang. Pembangunan Vipassan Bhavana Centre di Sibolangit ini sedang dilaksanakan dan Bhante Jinadhammo diangkat sebagai penasehat Panitia Pembangunan Vippassana Centre tersebut.

Pada pelatihan angkatan III, kembali diselenggarakan di Hutan Kebun Sawit Pak Husin, Rantau Prapat. Kali ini partisipasi pengurus Vihara Buddha Jayanthi dan umat cukup membanggakan seperti di Vihara Avalokithesvara Padang Sidempuan (Angkatan II). Pesertanya pun lebih banyak (+ 50 orang) dan lebih beragam : pemuda orang dewasa, termasuk pula ibu-ibu wanita buddhis. Angkatan III berlangsung lebih sukses lagi. Pada hari terakhir pelatihan, Bhante Jinadhammo mentabhiskan Saudara Gunung menjadi Samanera Giri Vicaya. Suasana yang menggembirakan dan sekaligus mengharukan. Setelah pelatihan angkatan III, Bhante Jinadhammo atas nama Sangha telah mendapat sumbangan tanah di atas perbukitan Pulau Moro Riau. Maksud sumbangan tersebut adalah untuk tempat latihan Vippassana Bhavana. Dan atas permohonan umat yang mensponsori kegiatan Pelatihan Vippassana-Bhavana, maka telah disusun rencana pelatihan Angkatan IV tahun 1999 di Padang Sidempuan, Angkatan V di Vippassana Centre Sibolangit (2000), dan Angkatan VI di Pulau Moro Riau (2001). Pengalaman peserta selama latihan sungguh beraneka-ragam. Dan gangguan-gangguan selama latihan di alam terbuka memang cukup banyak dirasakan para peserta. Tetapi semua itu masih dapat dikendalikan di bawah pengawasan Bhante Jinadhammo Maha Thera. Para peserta memperhatikan bahwa selama 7 hari pelatihan berlangsung, Bhante Jin barangkali tidak sempat tidur. Beliau siang malam mengawasi dan membimbing serta melindungi para peserta. Sungguh besar dan berat tanggung jawab guru pembimbing meditasi di alam terbuka dan pinggiran hutan.
Mengangkat Sumpah Sarjana Kedokteran dan Pegawai Negeri
Bertahun-tahun Bhante Jin selalu diminta oleh Universitas Sumatera Utara untuk mengangkat Sumpah bagi Sarjana Kedokteran U.S.U yang beragama Buddha. Demikian pula di Universitas Methodist Medan. Sudah tidak terhitung lagi berapa orang banyaknya. Setiap pengangkatan pegawai negeri yang beragama Buddha, Bhante Jinadhammo Maha Thera juga yang diminta oleh pemerintahan daerah Wilayah Sumut dan Medan Kota. Demi Sanghyang Adi Buddha, saya bersumpah ……, demikianlah selalu diucapkan oleh yang bersangkutan, seperti juga pada waktu acara pelantikan Bimas Buddha Tingkat I Sumut, Bapak Drs. Arifin Anwar (1994).

Memberikan Bimbingan dan Bantuan Spiritual
Kehidupan di kota besar seperti Medan, kota terbesar ke-3 di Indonesia, kian hari kian kompleks, sumpek, dan menimbulkan ketegangan jiwa bagi para penghuninya, termasuk juga umat Buddha. Almarhum Bhikkhu Prajna Nyana Nanda (murid Bhante Jin) sering nyeletuk pada masa hidupnya, Umat Buddha biasanya kalau sudah ada masalah baru mau datang ke Vihara. Ini bisa kita buktikan jika mau nongkrong di Vihara Borobudur Medan untuk beberapa waktu. Banyak sekali umat yang datang ke vihara menjumpai Bhante Jin. Mereka membawa beban batin dan masalahnya masing-masing. Mulai dari broken heart sampai yang kena PHK, dari yang broken home sampai stres berat karena uangnya dilarikan bisnis MLM Penggandaan Uang yang menghebohkan, dari korban penjarahan hingga pengungsi Aceh yang lari diancam bunuh oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Komplitlah segala macam Dukkha bisa disaksikan. Ramai. Tua dan muda, pria dan wanita, semua ada. Mereka datang mohon konsultasi dengan Bhante Jin. Ada yang minta berkah. Ada yang minta air aqua. Ada yang sekedar mengharap penghiburan. Ada yang minta dorongan. Ada yang mencari ketenangan batin. Ada yang minta perlindungan. Ada yang minta rekomendasi alias Katabelece. Bahkan yang minta duit juga banyak, apakah orang yang susah betulan, orang susah karena malas (tipu-tipuan), atau OKP serta preman Medan.

Orang yang serius datang mencari Dhamma yang langka ada beberapa kasus, orang tertentu yang berlatih meditasi tanpa guru dan mendapat gangguan psiko-fisik : kundalininya teraktifkan, cakra tertentu terlalu aktif, gangguan dari luar (makhluk halus), mereka datang ke Bhante Jin dan mendapat bantuan yang praktis atau nasehat yang sederhana tetapi jitu langsung ke akar persoalan. Terkadang Bhante Jin suka memberi petunjuk secara tidak langsung meskipun yang bersangkutan tidak mengutarakan permasalahannya. Bagi yang waspada dan tahu maksudnya, beruntung. Bagi yang belum tahu cara komunikasi khusus ini, biasanya bengong alias tidak tahu ujung dan pangkal. Bhante Jin juga sering memberi teguran dan peringatan kepada muridnya maupun umat dengan gaya bahasa Marah Anak Sindir Menantu. Maksunya, menegur si A tetapi tujuannya adalah memarahi/memperingatkan si B atas kesalahan dan kekeliruannya. Efeknya, si A bisa-bisa kebingungan dan berpikir, Apa yang terjadi … ya ? Namun si B pastilah merasa, seperti bunyi pepatah, siapa makan cabai pasti merasakan pedasnya.

Sokongan Bhante di Bidang Pendidikan Agama Buddha
Bhante Jinadhammo juga punya perhatian yang besar untuk kemajuan sarana pendidikan Buddhis di tanah air. Ketika Institut Ilmu Agama Buddha Samaratungga berdiri di Ampel Boyolali Jawa Tengah, Bhante Jin menyumbangkan beberapa unit perangkat komputer untuk fasilitas mahasiswa dan institut. Juga buku-buku ensiklopedi dan buku pintar lainnya. Ketika Institut Ilmu Agama Buddha Samaratungga Cabang Medan didirikan, Bhante Jin menjadi penasehat yayasan sekaligus dosen. Dan sejak 1993 hinggal 1996, Bhante Jin mengasuh mata kuliah Vinaya Pitaka. Mahasiswa Bhante Jin di IIAB Samaratungga Medan pada mulanya agak bingung menerima mata kuliah Vinaya yang diasuh Bhante. Sebab gaya ceramah Bhante Jin memiliki Style tersendiri. Mahasiswa harus ekstra konsentrasi, jika tidak bisa-bisa tidak menangkap alur komunikasi Bhante. Bahkan terkadang suara Bhante Jin menjadi sangat perlahan. Hampir tidak terdengar artikulasi kalimat yang diucapkan. Untungnya ada mahasiswa yang punya kiat tersendiri, yaitu dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan terarah. Ini mendapat jawaban Bhante yang lebih jelas dan wawasan Bhante menjadi tersalur keluar. Terutama bila membahas kasus-kasus yang berkaitan dengan Vinaya. Mengikuti perkuliahan Bhante Jin, mahasiswa merasa rileks. Bhante Jin biasanya suka bicara humor. Suasana jadi menyegarkan. Ada ungkapan Bhante Jin yang selalu diingat mahasiswa. Jangan memakai kaca pembesar dalam mempelajari vinaya. Maknanya, memandanglah secara proposional terhadap Vinaya, baik dari segi teoritis maupun praktisnya ; dan haru sberlandaskan pada Jalan Tengah ajaran Buddha Gautama. Di Ampel maupun Medan, Bhante Jin mempunyai beberapa anak asuh di IIAB Samaratungga. Setelah mempunyai pekerjaan, anak asuh tersebut dilepaskan agar belajar mandiri, bekerja sambil kuliah. Di Vihara Borobudur Medan sejak awal 1990-an telah pula memiliki Kitab Suci Tripitaka sebanyak 2 set. Satu set berbahasa Pali, satu set lagi berbahasa Inggris. Kitab Suci Tripitaka ini dipesan Bhante Jin dari Muangthai. Sekarang sudah diperbanyak oleh beberapa pihak di Medan. Keberadaan Kitab Suci Tripitaka ini telah pula merangsang berdirinya penerbit Buddhis Pundarika. Dan berguna pula bagi bahan perkuliahan serta penulisan skripsi mahasiswa. IIAB Samaratungga Medan telah menerbitkan 2 Kitab Suci Sutta pitaka, yaitu Ittivutaka dan Udana. Kedua kitab yang diterjemahkan tersebut telah pula menjadi bahan perkuliahan mahasiswa. Kitab-kitab lain sedang dalam proses penerjemahan saat ini. Selain untuk pendidikan Buddhis kalangan sendiri, Bhante Jinadhammo Maha Thera juga sering didatangi oleh para mahasiswa dari IAIN (Institut Agama islam Negeri) Medan. Mahasiswa-mahasiswa itu biasanya dari jurusan Ushuluddin (Perbandingan agama) yang mendapat tugas membuat makalah atau skripsi yang berhubungan dengan agama Buddha. Demikian juga dari mahasiswa Sekolah tinggi Teologi Kristen. Bhante selalu memberikan jawaban-jawaban yang lugas, dan mudah dipahami. Untuk referensi yang diperlukan, biasanya Bhante merekomendasikan mahasiswa tersebut ke IIAB Samaratungga Medan dan Bimas Buddha Departemen Agama Tingkat I Sumut.

VIHARA-VIHARA
Vihara Swastimuni Siang itu udara begitu cerah, burung-burung yang hinggap di atas atap Vihara Swastimuni, bersiul riuh rendah secara serentak memberi semangat pada matahari yang sedang menyirami bumi dengan cahayanya yang penuh kehangatan. Angin berhembus sepoi-sepoi menyamai benih kebahagiaan. Suasana di kota kecil produsen peyek Kisaran itu begitu ceria, lain dari biasanya. Awan putih di atas sana mengintip penuh keheranan, siapa gerangan yang akan datang, mengapa alam tampak begitu berseri ? Tak ingin lama berada dalam kebingungan ia pun bertanya pada ikan yang sedang menari-nari di dalam sungai Silo, sambil sesekali mereka melompat, menghirup udara segar dan menyemplung lagi ke dalam sungai, ikan-ikan itu tak kuasa menyembunyikan suasana hati mereka yang sedang bahagia. Saking asyiknya mereka sampai tak mendengar pertanyaan si Awan Putih. Beberapa saat kemudian dari peraduannya di langit biru Awan melihat ke bawah, ada sebuah mobil yang memasuki kota Kisaran, roda mobil itu terus berputar dan akhirnya berhenti di depan Vihara Swastimuni. Di sana telah banyak umat yang sedang menunggu, mereka tanpa dikomando lagi langsung merangkupkan kedua tangan di dada bersikap anjali. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil tersebut. Dari dalam keluar seseorang yang telah menggetarkan alam dengan kebajikan yang telah ditanamnya. Dengan menyungging senyum di wajahnya yang polos beliau membalas sapaan orang-orang yang menyambut kedatangannya. Diikuti oleh para umat beliau yang terkenal dengan ketaatannya pada Vinaya mengayunkan langkah memasuki Vihara Swastimuni. Di dalam bhaktisala telah tersedia alat-alat kebaktian, umat duduk dengan tenang bersiap-siap mengikuti Kathina Puja yang akan dipimpin oleh Bhikkhu yang sekaligus mewakili Sangha Agung Rayon I itu. Selesai kebaktian Bhikkhu yang sudah akrab di mata umat Buddha ini berkenan memberikan Dhammadesana. Yang Arya memberitakan asal-usul dan makna Hari Kathina. Bhikkhu Jinadhammo bukan hanya pada hari-hari besar saja memberikan khotbah Dhamma, tetapi juga setiap hari bagi mereka yang sedang membutuhkannya, beliau akan menjawab kegelisahan mereka dengan Buddha Dhamma yang didukung oleh pengalaman hidupnya. Begitulah Bhikkhu Jinadhammo yang selalu berusaha menyejukkan di saat kegerahan.

Beliau yang ramah dan disiplin sudah menjadi langganan undangan oleh vihara-vihara yang merayakan hari-hari besar umat Buddha, termasuk juga Vihara Swastimuni di Kisaran. Surat dari Vihara Buddha Warman Padang. Bhante Jinadhammo adalah sosok anggota Sangha yang sudah tidak asing lagi bagi umat Buddha di Vihara Buddha Warman, Padang dan juga umat Buddha di Sumatera Barat. Beliau adalah ibarat Pelita Dharma bagi kami, yang senantiasa menerangi, membina, dan mengayomi kami dalam keadaaan senang dan susah. Beliau adalah Bhikkhu senior yang sangat sederhana dan bersahaja serta sikap beliau yang tenang, penuh cinta kasih, dan kadangkala juga bisa humor. Mungkin kejadian yang akan kami kisahkan ini dapat memberi gambaran betapa kesederhanaan dan bersahajanya beliau. Pada suatu hari Bhante Jinadhammo secara mendadak tanpa kabar terlebih dahulu berkunjung ke Vihara Buddha Warman padahal pada waktu itu vihara tidak ada penghuni, sehingga Bhante terpaksa menunggu cukup lama sampai pintu vihara dibuka. Sewaktu kami tanyakan pada Beliau, Mengapa Bhante datang mendadak dan mengapa Bhante tidak memberi kabar terlebih dahulu ?, sambil tersenyum Beliau balik bertanya, Kalau kami beri kabar terlebih dahulu, apakah mau diadakan upacara penyambutan ? Bukan begitu Bhante, kan kasihan Bhante terpaksa menunggu lama, dan lagi pula kamar kuti belum dipersiapkan. Dengan santai Bhante menjawab, Ah… itu tidak jadi masalah, tidur di mana pun boleh, bahkan di meja pingpong ini pun jadilah, tidak apa-apa kok, di desa-desa juga banyak vihar ayang belum punya kuti, jadi tidurnya ya … di lantai Bhaktisala saja. Keteguhan Beliau menjalankan sila keBhikkhuan adalah cara mengajar dan mendidik umat yang lebih ampuh daripada hanya sekedar khotbah dengan kata-kata. Petunjuk dan nasehat Beliau yang begitu terasa begitu spontan dan kadangkala dianggap lucu serta kurang dimengerti oleh umat, padahal sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam.

Ketika masa-masa sulit dialami oleh Cetiya Buddha Warman sekitar tahun 19760-1978 dimana terjadi kemunduran dalam kegiatan perkembangan agama Buddha di Padang, hanya Bhante Jinadhammo yang masih rutin mengunjungi cetiya kami, dua atau tiga bulan sekali. Ketika kegiatan cetiya mulai bangkit kembali pada tahun 1979 dengan berdirinya Gelanggang Remaja Buddhis Padang (yang sekarang berubah nama menjadi Persaudaraan Muda Mudi Vihara Buddha Warman Padang), Beliau juga sangat berperan dalam memberikan motivasi dan semangat pada generasi muda waktu itu. Tahun 1980 Beliau pulalah yang menaikkan status cetiya kami menjadi Vihara Buddha Warman Padang. Pada bulan Mei 1983, ketika Gelanggang Remaja Buddhis Padang (GRBP) mengadkan Dharmasanti Waisak 2527 di Aula SMA Don Bosko Padang Bhante Jinadhammo berkenan hadir dan menyampaikan Kata Sambutan serta Renungan Waisak 2527. bahkan beberapa kali acara Dharmasanti Waisak yang diadakan di Padang, beliau berkenan menghadirinya. Beliau juga sangat berperan dalam merintis berdirinya vihara-vihara lain di Propinsi Sumatera Barat, seperti Vihara Buddha Sasana Bukit Tinggi, Vihara Buddha Metta Payakumbuh, dan Vihara Karuna Murti Padang Panjang. Ketika rencana kami untuk memindahkan lokasi Vihara Buddha Warman dari jalan Kelenteng I/3 ke Jalan Muara No. 34 terkatung-katung karena kekurangan dana untuk membeli tanah di lokasi yang baru, Beliaulah yang dengan penuh kharisma memberikan saran dan petunjuk serta nasehat kepada Bapak Wijaya Effendy (alm.), Ketua Yayasan Triratna Padang, sehingga Bapak Wijaya Effendy bersedia meminjamkan uang pribadinya untuk membeli tanah guna membangun gedung vihara yang baru. Dan ketika pembangunan gedung baru Vihara Buddha Warman Padang dimulai, pada tanggal 29 Juli 1988 tepat pada peringatan Hari Suci Asadha2543, beliau bersama-sama dengan Y.A. Sthavira Aryamaitri, Y.A. Bhikshu Nyanamaitri dan seorang Samanera melaksanakan pembacaan doa dan melakukan peletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung baru vihara. Bahkan Bhante juga membantu kami mengumpulkan dana/sumbangan untuk pembangunan gedung baru vihara dari umat Buddha di Medan. Pada pelantikan Pengurus Yayasan Triratna Padang dan sekaligus peringatan HUT ke-30 Yayasan Triratna Padang tanggal 22 Agustus 1996, Beliau dan Bhante Arya Maitri berkenan hadir untuk melantik dan memberkahi serta memberikan semangat dan motivasi pada para pengurus yayasan yang baru. Akhir-akhir ini memang Bhante Jinadhammo tidak punya jadwal rutin lagi untuk berkunjung dan membina umat Buddha di Padang (Sumatera Barat), hanya sekali-sekali Beliau masih menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Vihara Buddha Warman Padang dan juga bilamana ada acara-acara penting yang mengharapkan kehadiran Beliau.

Hal ini dapat kami maklumi karena pada kenyataannya masih banyak umat di vihara-vihara lain di Rayon I yang lebih memerlukan sentuhan pembinaan dan asuhan dari Beliau. Apalagi mengingat bahwa usia Beliau juga semakin lanjut, tentu saja Beliau tidak bisa seperti dulu lagi terlalu sering berpergian jauh ke daerah-daerah, lagipula sekarang telah ada para Bhikkhu muda dan Samanera yang Beliau bina untuk membantu meringankan tugas-tugas pembinaan Beliau di Rayon I. Sampai saat ini bilamana ada masalah dan persoalan yang cukup berat harus kami hadapi dan selesaikan, kami selalu menghubungi beliau melalui telepon untuk mendapatkan petunjuk dan saran, serta nasehat dari Beliau yang bijaksana. Dengan sedikit berkurangnya kesibukan Beliau membina umat, diharapkan agar Beliau mempunyai lebih banyak waktu untuk menyendiri guna kemajuan kesucian Beliau sebagai seorang anggota Sangha Agung Indonesia yang senior.

Akhir kata kami para murid dan umat asuhan Bhante di Vihara Buddha Warman Padang senantiasa berdoa semoga Bhante senantiasa sehat dan bahagia dalam berkah dan lindungan Sanghyang Adi Buddha, Sang Triratna serta para Bodhisatva. Kembalinya Buddha Dhamma di Bumi Sriwijaya Boleh dikatakan propinsi Riau merupakan tanah Sriwijaya, karena di sinilah kerajaan Sriwijaya dulu terpusat. Pada masa tersebut agama Buddha tumbuh dengan subur, dan bahkan menjadi salah satu pusat pendidikan Buddhis di dunia. Namun sejalan dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya, agama Buddha juga seolah sirna dari daerah Riau. Sekian lama terpendam, akhirnya agama Buddha muncul kembali di bumi Sriwijaya ini dan kembali menunjukkan kiprahnya. Hal ini ditandai dengan munculnya vihara-vihara di daerah Riau, seperti Vihara Buddha Sakyamuni dan vihara Buddhasasana (Andiva) yang terdapat di Bagansiapiapi, Vihara Dharma Loka di Pekan Baru, dan Vihara Buddha Diepa di Tanjungbalai Karimun. Suburnya tumbuh kembang vihara-vihara di Riau pada masa sekarang ini, tak lepas dari semangat dan usaha seorang pengabdi Dhamma, yakni Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera selaku Ketua Rayon I Sangha Agung Indonesia. Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh penduduk setempat, baik dalam acara peltakkan batu pertama pendirian vihara, acara peresmian vihara, pensakralan buddha rupang, maupun kebaktian hari besar Agama Buddha.

Pada tahun 1990 Bhikkhu Jinadhammo bersama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita melakukan upacara pensakralan Buddha Rupang milik Vihara Buddha Diepa (yang pada waktu itu belum berdiri). Selanjutnya pada tanggal 5 Oktober 1996 Bhante Jinadhammo disertai Samanera Nyana Kirti menghadiri acara peletakkan batu pertama pembangunan Vihara Buddhasasana. Dan pada tahun yang sama pula Bhikkhu Jinadhammo menghadiri acara peresmian Vihara Buddha Diepa di Tanjung Balai Karimun bersama Bhikkhu Aryamaitri, tepatnya pada tanggal 22 Nopember 1996. Berdiri dan berkembangnya Vihara Sakyamuni di Bagansiapiapi juga tak terlepas dari jasa Bhikkhu Jinadhammo. Dari daerah ini pula kemudian menelorkan seorang Bhikkhu muda, yakni Bhiksu Nyana Prajna. Bukan hanya menghadiri acara-acara keagamaan di vihara-vihara namun yang di luar vihara pun juga dihadiri oleh Bhikkhu Jinadhammo. Tanpa memilih tempat, beliau menyebarkan Dhamma. Perhatiannya juga dicurahkan untuk para penduduk transmigran yang berasal dari Kampung Sela, Jawa Tengah, yang sekarang bermukim di daerah pemukiman penduduk transmigran di Kecamatan Kampar di Riau. Dharma Wijaya Medan Seperti rumah ibadah umat Buddha lainnya, Vihara Dharma Wijaya pun disinggahi oleh sang pelanglang buana Y.A. Bhante Jinadhammo Mahathera. Beliau tak hanya singgah, tetapi juga meresmikan renovasi pertama vihara yang terletak di jalan Wahidin tersebut. Selain itu Bhante yang selalu ramah kepada siapa saja ini juga selalu menghadiri perayaan hari-hari besar umat Buddha yang diadakan di vihara tersebut. Di mata muda-mudi pemutar roda organisasi Persaudaraan Muda-Mudi Vihara Dharma Wijaya(PMVDW) sendiri, beliau yang telah menjajaki hampir di setiap jengkal daerah Sumatera Utara, khususnya yang berpenduduk buddhis ini adalah seorang humoris, namun bukan berarti beliau tidak bisa diajak serius.

Genap tiga puluh tahun vassa yang telah dijalaninya, banyak sudah asam garam yang dicicipinya. Suka duka seorang penyambung lidah Sang Buddha pun telah dirasakannya. Tak pelak lagi pengetahuannya di bidang Buddha Dhamma semakin luas. Semua ini terungkap lewat khotbah-khotbah beliau ataupun dalam percakapan sehari-hari dengan umat. Tak jarang kita sebagai umat biasa yang masih jauh tertinggal di bawahnya bila diukur dengan meteran dhamma sulit sekali mencerna kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut beliau. Fenomena seperti ini seharusnya dijadikan sebagai cambuk bagi kita untuk lebih giat lagi menggali khasanah Buddha Dharma. Namun sayang obrolan yang tidak nyambung oleh karena kadangkala pengetahuan yang kita miliki ini sering menimbulkan kejenuhan dalam diri kita sebagai umat biasa untuk melanjutkan obrolan tersebut. Kenyataan tersebut di atas bukan hanya diakui oleh muda-mudi yang berkecimpung di organisasi PMVDW, tetapi juga disadari oleh kita semua sebagai orang yang pernah bersua dengan beliau. Andai saja mau menjadikan pengalaman hidupnya menjadi milik kita, tentu saja banyak yang dapat kita peroleh darinya. Caranya ? Salah satu caranya dengan membaca buku biografi tentang diri beliau yang sedang berada di genggaman kita tentunya.

Vihara Bodhi Mandapa Di daerah Sukaramai, Medan, ada sebuah vihara yang cukup bersemangat dalam pengembangan Dhamma dalam wujud nyata berupa kegiatan sosial. Vihara itu tak lain tak bukan adalah Vihara Bodhi Mandapa yang terletak di Jalan Perguruan yang berdiri pada tanggal 21 Mei 1991. Dalam usianya yang masih cukup muda, Vihara dan Generasi Muda Buddhis Vihara Bodhi Mandapa sudah memiliki prestasi yang cukup dapat dibanggakan. Bagi para pengurus vihara dari Generasi Muda Buddhis Vihara Bodhi Mandapa ini, semangat mereka terpacu berkat kehadiran Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera. Figur inilah yang selalu membawa kesejukan, keteladanan dan semangat bagi mereka. Kehadiran Bhikkhu Jinadhammo dalam peletakkan batu pertama dan pemberkatan pembangunan vihara, juga memimpin doa syukuran selesainya pembangunan vihara merupakan berkah tersendiri bagi mereka. Apalagi Sang Figur bersedia dan sering memenuhi undangan khotbah dan pemberian Visudhi Tisarana di Vihara Bodhi Mandapa. Buddha Jayanthi Vihara Buddha Jayanthi merupakan salah satu vihara yang terkenal di daerah Rantau Prapat. Vihara Buddha Jayanthi yang terletak di Jalan Gatot Subroto No. 12-14 Rantau Prapat merupakan vihara yang umum dikunjungi oleh Sangha Agung Indonesia Rayon I, khususnya Yang Arya Bhante Jinadhammo Maha Thera. Vihara ini merupakan tempat sembahyang dan kegiatan-kegiatan agama Buddha sebagian besar umat Buddha di Rantau Prapat. Vihara ini mempunyai 4 lantai. Lantai I dipergunakan untuk dapur, bursa Dhamma Corner, serta fasilitas lainnya. Di lantai II terdapat Bhaktisala untuk tempat sembahyang. Lantai III dipergunakan untuk tempat perkantoran muda-mudi, yayasan, kamar Sangha, ruangan tamu, dan kamar mandi. Sedangkan pada lantai IV dipergunakan untuk tempat jemuran pakaian dan sebagainya. Rencananya vihara ini akan diperluas dan dikembangkan lagi. Perkembangan Vihara Buddha Jayanthi ini sangat maju semenjak didirikan sampai sekarang, karena keinginan yang kuat dari umat Buddha Rantau Prapat. Umat dan muda-mudi di vihara ini sangat kagum dan senang sekali terhadap Yang Arya Bhante Jinadhammo Maha Thera. Setiap Bhante datang, selalu disambut dengan baik dan ramah sambil tidak lupa menyediakan segelas juice, kopi, teh ataupun susu. Umat ataupun muda-mudi vihara ini sering mengundang Bhante Jinadhammo dalam acara atau kegiatan-kegiatan hari besar Agama Buddha, seperti : Hari Raya Kathina, Hari Tri Suci Waisak, atau Pho Un. Umat Buddha dari Vihara Buddha Jayanthi Rantau Prapat telah memberikan sedikit kesan terhadap Y.A. Bhante Jinadhammo Maha Thera, seperti yang tertulis dalam kutipan di bawah ini. Kami sangat bangga dan bersyukur, mempunyai seorang Rohaniwan seperti beliau yang begitu lemah lembut, sangat disiplin menjalankan sila dan penuh kebijaksanaan dalam membimbing umat Buddha, khususnya di daerah kami di Rantau Prapat.

Mutiara dari Kota Kerang
Untuk pertama kalinya Bhikkhu Jinadhammo menginjakkan kakinya di Kota Kerang, Tanjung Balai, pada tahun 1977, bersama ibu Nora dan ibu Neri dari Vihara Borobudur, Medan. Pada saat itu agama Buddha dan vihara yang ada di Tanjung Balai lebih cenderung pada tradisi orang Tionghoa daripada Buddha Dhamma. Belum ada pembacaan paritta di vihara dan pelajaran agama Buddha. Yang baru dimasukkan dalam kurikulum sekolah pada waktu itu pun hanya diajarkan sepintas lalu saja sesuai buku pedoman yang ada, juga oleh guru yang juga tidak mengenal Buddha Dhamma secara utuh dan mendalam, atau lebih tepatnya tidak memahami Buddha Dhamma. Mula-mula kedatangan Bhikkhu Jinadhammo dirasakan sebagai momok bagi guru yang bersangkutan, sehingga sang guru tak berani menghadap beliau. Guru itu adalah Ibu Susiani Intan (Ibu Sui Siang). Adapun sebab ketakutan tersebut adalah perasaan malu yang menggunung, karena sebenarnya ia tak mengerti tentang Buddha Dhamma tapi mengajar pelajaran agama Buddha, bahkan untuk membaca sebuah paritta saja pun tak bisa. Namun Bhikkhu Jinadhammo bukanlah orang yang mudah putus asa.

Untuk kedua kalinya beliau datang ke Tanjung Balai dengan menaiki kereta api, dan kali ini dengan perasaan yang amat berat Ibu Susiani Intan mau tak mau datang untuk memenuhi panggilan Sang Bhante. Kendala kedua pun muncul karena ternyata Bhikkhu Jinadhammo tidak begitu fasih berbahasa Indonesia, dan logat Jawanya masih agak kental, di lain pihak ibu Intan juga kurang fasih dalam bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa. Masa-masa sulit ini akhirnya berlalu juga. Selanjutnya setiap seminggu sekali Bhikkhu Jinadhammo datang ke Tanjung Balai dengan naik kereta api untuk mengajari Ibu Intan membaca paritta-paritta suci. Setiap seminggu sekali 1 paritta diajarkan, dan dengan rasa bangga pula Ibu Intan mengajarkannya kepada siswa-siswanya di sekolah. Suatu momen yang tak dapat dilupakan oleh umat Buddha Tanjung Balai, khususnya bagi para pelaku sejarahnya adalah dibawanya patung Buddha Sakyamuni sebagai hadiah dari Sang Bhante untuk umat Buddha di Tanjung Balai. Karena belum ada tempat untuk menaruhnya, maka Ibu Intan meminta sedikit ruang dari Vihara Avalokitesvara untuk dijadikan sebagai tempat pemujaan dan tempat kebaktian bagi muda-mudi. Pada hari itu juga umat Buddha Tanjung Balai, khususnya muda-mudinya untuk pertama kali merayakan hari Kathina yaitu Kathina 2521.

Pernah pada suatu perayaan Hari Waisak yang diadakan di Vihara Avalokitesvara, Bhikkhu Jinadhammo sempat diamankankan oleh pihak berwajib karena diduga sebagai orang aneh yang berusaha menghimpun massa. Tapi setelah diselidiki akhirnya beliau diperkenankan untuk kembali ke vihara untuk melanjutkan Waisaka Puja. Hal ini bisa dimengerti karena pada masa itu umat Buddha Tanjung Balai belum pernah sekalipun menyelenggarakan acara semacam itu. Karena sebab-sebab tertentu, akhirnya Ibu Intan dan siswa-siswanya harus mencari tempat lain untuk melaksanakan kebaktian. Dan bersamaan pada waktu itu ada 5 orang yang cukup berpengaruh juga bermaksud untuk mendirikan vihara baru untuk tempat kebaktian semua umat Buddha.

Atas restu dan petunjuk dari Sang Bhante serta usaha keras dari Ibu Intan dan kerjasama dari 5 orang sahabat tersebut, akhirnya ditemukan 1 tempat yang cocok, yaitu sebuah rumah tua yang menghadap ke sungai Asahan. Rumah ini kemudian direnovasi sedikit untuk dijadikan vihara. Vihara ini kemudian diberi nama Vihara Tri Ratna dengan diresmikan oleh Walikota Tanjung Balai pada masa itu, Bapak Drs. H. Ibrahim Gani pada hari Sabtu Wage, 3 Nopember 1984. dan Ketua I Yayasan Vihara Tri Ratna pada saat itu adalah Bapak Lie Thien Cai.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Bhante masih tetap rajin berkunjung ke Tanjung Balai untuk memberi semangat spiritual bagi umat Buddha Tanjung Balai sampai saat ini. Sedangkan Ibu Intan sendiri sekarang sudah tidak aktif lagi dalam kegiatan keagamaan karena usia yang semakin tua dan kesehatannya yang semakin menurun. Namun dari usaha para pelopor ini, sekarang Vihara Tri Ratna dan muda-mudinya sudah cukup menunjukkan prestasinya, dan ada juga mantan muda-mudi vihara ini yang mengikuti jejak sang guru, mencurahkan semangat, pikiran dan tenaga di bidang keagamaan.

Menaklukkan Tanah Karo
Secara umum orang di bumi Andalas menganggap bahwa agama Buddha itu miliknya etnis Tinghoa saja, sedangkan Islam miliknya orang Melayu, dan orang Karo pasti beragama Kristen. Bila ada guru agama Buddha yang beragama Sembiring, Sitepu, ataupun Ginting, orang akan langsung bertanya, Apa tidak salah?, dan dilanjutkan dengan pernyataan, Pasti dia bukan beragama buddha. Tapi kenyataannya memang banyak juga guru agama Buddha yang betul-betul beragama Buddha di Sumatera Utara ini yang bersuku Karo. Mengapa bisa demikian? Jawabannya adalah karena ada pengabdi Dhamma yang telah bersusah payah mendatangi, menaklukkan, serta menabur benih Dhamma di Tanah Karo, yakni Bhante Jinadhammo yangdibantu oleh Drs. Arifin Anwar selaku Pembina Buddha Tingkat I Sumatera Utara. Boleh dikatakan kampung asal para guru agama Buddha yang bersuku Karo tersebut cukup jauh dari kota Medan, tempat Bhikkhu Jinadhammo berdiam. Belum lagi kondisi jalannya yang belum baik dan tak bisa dicapai dengan mobil, melainkan harus dengan cara berjalan kaki sejauh + 7 km, seperti contohnya desa Parangguam, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat.

Sebelum menganut agama Buddha, penduduk setempat menganut kepercayaan Pemenah (yang berarti pertama atau wal) dan berpegang teguh pada ADAT (Ajaran=ajaran; Dibata=Tuhan; Arah=melalui, Tua-tua=orang tua), atau ajaran Ketuhanan melalui orang tua. Menyadari bahwa yang mereka anut masih berupa suatu kepercayaan, tumbuh kesadaran dari mereka untuk menganut suatu agama yang diakui pemerintah secara sah. Atau usul Bapak Dirjen Sitepu, Bapak Johan Sitepu dan Gandih Sitepu pun mencari Bhikkhu Jinadhammo di Vihara Borobudur Medan untuk memohon kepada beliau agar melakukan pembinaan secara Buddhis terhadap masyarakat Karo yang ada di desa Parangguam. Maka sejak tahun 1984 sebagian penduduk Parangguam sudah beragama Buddha dan langsung di Trisarana-kan dan dibina oleh Bhikkhu Jinadhammo. Dalam sembilan kali kunjungan beliau ke sana, mereka sudah cukup memahami Buddha Dhamma yang diajarkan pada mereka, karena tidak terlalu jauh berbeda dengan kepercayaan lama mereka. Mungkin kendala bagi mereka adalah untuk membaca dan memahami paritta-paritta yang berbahasa Pali yang masih sangat asing bagi lidah dan telinga mereka. Tapi dalam waktu dekat ini mudah-mudahan kendala tersebut dapat diatasi, karena di antara pemuda Karo yang telah mengecap pendidikan di Institut Ilmu Agama Buddha telah mulai menyadur paritta-paritta tersebut ke dalam bahasa Karo.

Pada tahun yang sama pula, atas rintisan dari Bhante Jinadhammo, Upa. Giriputra dan Ibu Marianiwaty, dimulailah pembangunan Cetiya Sakya Kirti di atas setapak Tanah di Parangguam Male, disumbangkan oleh penduduk setempat. Dan sekarang ini bukan hanya Cetiya Sakya Kirti saja yang terdapat di tanah Karo, tapi juga sudah ada vihara-vihara yang lain, seperti Vihara Kassapa yang terletak di Simpang Glugur, Desa Turangi, dan Vihara Sriwijaya yang terletak di desa Parangguam Baru, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. Tumbuh kembangnya kedua vihara ini juga tak lepas dari tangan Sang Satria Jubah Kuning, Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera. Di Sibiru-Biru juga ada vihara dan cetiya milik umat Buddha suku Karo, yaitu Vihara Sangha Ramsi dan Cetiya Vanara Seta. Bertolak dari hal ini dapat kita katakan bahwa Buddha Dhamma tidak membedakan suku maupun golongan, demikian juga seorang pengabdi Dhamma sejati akan berusaha menyemaikan Buddha Dhamma ke mana saja tanpa mempersoalkan kesukarannya.

Sekilas Vihara Kassapa Vihara Kassapa telah berdiri selama lebih kurang 10 tahun, dimulai dari pembelian tanah 2 Rantai yang berlokasi di simpang Glugur, desa Turangi, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. Setelah itu dibangun bangunan semi permanen, pagar keliling, kamar, sumur, dan sampai sekarang difungsikan sebagai vihara. Lokasi Vihara Kasappa yang berada di simpang Glugur tersebut berdiri di atas tanah 792 m2. Pemilihan lokasi terletak di pinggir jalan, fasilitas transportasi yang memudahkan, fasilitas untuk latih diri (meditasi) sangat memadai, dan dapat dijadikan sebagai tempat vassa bagi anggota Sangha. Bangunannya terdiri dari bangunan Bhaktisala dengan luas 112.5 m2, bangunan Kuti termasuk sebuah kamar mandi dengan luas 70 m2, dan bangunan pengelola dengan luas 36 m2.

Vihara Avalokitesvara Tebing Tinggi
Di Bhaktisala Vihara Avalokitesvara, telah berkumpul para pengurus dari Vihara Maha Dana, Cetiya Ekayana dan Vihara Avalokitesvara sendiri. Mulai dari ketua sampai anggota muda-mudi duduk membentuk lingkaran, mereka akan mendiskusikan suatu kegiatan yang akan diadakan di vihara mereka. Tak lama kemudian dari balik pintu muncul seseorang yang telah ditunggu-tunggu, lelaki berusia parubaya. Siapakah beliau? Adakah ia salah satu dari anggota yayasan vihara? Tidak, ia juga bukan seorang senior di vihara itu, namun demikian, ia mempunyai andil yang cukup besar dalam usaha mencambuk semangat muda-mudi sebagai generasi penerus umat Buddha, khususnya di tempat ibadah umat Buddha di atas. Tak heran bila kehadirannya hari itu begitu diharapkan, walaupun sekedar untuk memberikan saran atu menyaring ide-ide yang masuk. Seperti di kota-kota lainnya, di kota yang terletak di pertengahan antara Medan dan Tanjung Balai ini pun beliau sangat dihormati, bukan karena usia vassanya yang sudah cukup tua, atau karena jubah yang dipakainya, melainkan karena ketulusannya membentang tangan mengajak kita untuk sama-sama membooking tiket kapal menuju pantai seberang. Tentu saja dengan cara melaksanakan Dharma. Berbagai usaha dilakukannya untuk menggali benih ke-Buddha-an yang tertanam di diri kita, melalui khotbah-khotbahnya yang menerobos relung hati. Itu pula sebabnya umat Buddha yang pernah bertemu dengannya, yang pernah mendengarkan khotbah beliau sepakat bahwa ia pantas menjadi salah seorang Bhikkhu panutan di Indonesia.

Y.A. Bhante Jinadhammo yang kerap dipanggil Eyang, hari itu diundang untuk merayakan Hari Suci Waisak di Vihara Avalokitesvara, sebelum kebaktian dimulai beliau diminta kesediaannya untuk mengikuti diskusi. Setelah memasuki bhaktisala beliau langsung bernamaskara dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dalam diskusi itu muncul ide brilian dari salah seorang pengurus, dia mengusulkan bagaimana kalau mereka mengadakan suatu kegiatan yang lebih bersifat membina spiritual daripada kegiatan yang heboh namun tidak begitu bermanfaat dalam membantu kita melaksanakan sila di dalam kehidupan kita sehari-hari, contohnya mengadakan kegiatan Atthangga Sila sebulan sekali. Ide ini langsung disetujui oleh Eyang bahkan beliau ingin kegiatan tersebut diadakan setiap akhir pekan, sehingga muda-mudi bisa spend their spare time dengan kegiatan positif. Itulah salah satu contoh betapa Eyang sangat peduli pada generasi muda Buddhis. Semua peserta diskusi takjub dengan usul beliau namun kalau diadakan setiap akhir pekan mungkin mereka akan mengalami banyak hambatan, contohnya izin orang tua untuk menginap di vihara. Diskusi terus berjalan seiring dengan waktu yang terus bergulir. Sampai malam tiba, upacara peringatan Hari Suci Waisak pun diadakan. Yang Arya memasang lilin panca warna sebagai tanda kebaktian dimulai. Tidak memandang Sekte Pengabdi dharma sejati, yang telah berjubah kuning, seyogyanya memang tidak membatasi diri dalam tugasnya melayani umat. Sebagai seorang Bhikkhu dari Sangha Agung Indonesia, figur Bhante Jinadhammo Maha Thera memang cukup dikenal karena beliau tidak lagi terikat pada sekterian atau suatu organisasi. Karena itu pulalah sosok Bhikkhu yang satu ini bisa diterima, dihargai, dan dihormati oleh sekte-sekte lain yang ada di Rayon I ini.

Cetiya Maha Sampati dan Vihara Maha Sampati yang notabene berada di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia tetap memposisikan Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera sebagai penasehat dari organisasi viharanya. Vihara Satya Buddha Purnama, yang terletak di jalan Lombok No. 1 adalah vihara dari aliran Kasogatan yang mana namanya merupakan penganugerahan dari Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera. Tercatat beberapa vihara di luar vihara Buddhaya yang sering dikunjungi oleh Bhikkhu Jinadhammo, antara lain : – Vihara Sahassa Buddha – Vihara Bodhi Suci – Vihara Bodhi Mandapa – Dll

HARI-HARI SUCI Hari Suci Waisak Semasa pengabdian Yang Arya selama 30 vassa, beliau telah banyak mengahdiri Upacara Kebaktian Hari Suci Waisak sebagai Perwakilan dari Anggota Sangha. Makna dari Hari Suci Waisak yang sering diingatkan beliau pada setiap Hari Waisak adalah untuk memperingati :
* Hari lahirnya Pangeran Sidharta tahun 623 SM.
* Hari Pangeran Sidharta mencapai Kebuddhaan tahun 588 SM.
* Hari Sangha Buddha mencapai PariNibbana (wafat) tahun 543 SM.
Semua kejadian tersebut terjadi pada hari dan bulan yang sama yaitu di pertengahan bulan Waisak. Makna tersebut disampaikan oleh Bhante hingga ke pelosok-pelosok yang dalam seperti di pedalaman desa yang belum beragama Buddha. Bukan muluk-muluk yang sering dikhotbahkan Bhante di Hari Suci Waisak ini dan janji-janji keselamtan untuk orang-orang yang merayakan Hari Suci Waisak, namun beliau senantiasa menekankan agar kita selalu menghilangkan keegoisan diri yang terikat pada diri masing-masing. Sebab itulah yang menjadi penyakit terbesar dalam hidup manusia. Maksudnya saya mau begini, kamu menjadi begitu, ini urusan saya dan kamu tidak berhak mencampurinya, saya musti mendapat penghargaan atas apa yang telah saya perbuat untuk orang banyak dan sebagainya. Kata-kata ini sering diucapkan oleh setiap orang, dan selalu diingatkan oleh Bhante akan bahayanya. Oleh karena kesederhanaan Bhante dalam berkata dan bertindak inilah Bhante memberi bimbingan di Hari Suci Waisak, selama menjalani 30 vassanya.

Tidak kalah peran dari bimbingan beliau, para Bhikkhu dan samanera yang ditugaskan beliau untuk turun ke daerah membantu tugas anggota Sangha. Misalnya, Bhante Suhadayo, Bhante Nyana Nanda (almarhum), Bhante Khampiro Badhrapala, Bhikshu Pratama dan samanera-samanera lainnya yang tidak dapat disebut satu persatu namanya di buku ini. Dan tidak luput pula cetiya-cetiya, vihara-vihara dan sekolah-sekolah yang ada ajaran Buddhanya (khususnya di Sumatera Utara) turut mengundang beliau untuk memberikan Dhammadesana di Hari Suci Waisak. Kalau ada Bhante Jinadhammo menghadiri Waisak di sini, suasananya akan lain dan lebih bersemangat, kata salah seorang pengurus vihara di luar kota Medan.

Acara Waisak di Vihara Borobudur yang diadakan oleh Persaudaraan Muda-Mudi Vihara Borobudur lebih sering dihadiri oleh Bhante, karena Bhante kebetulan bertempat tinggal di Vihara Borobudur Medan. Dalam acara kebaktian Waisak selain memberikan Dhammadesana, Bhante juga memimpin pembacaan paritta, permohonan tuntunan Pancasila dan Dhamma, dan dilanjutkan dengan pembacaan paritta lainnya. Dan juga pemberkahan air suci yangselalu ditunggu-tunggu oleh Umat yang hadir. Kemudian Bhante akan memimpin jalannya prosesi lilin dengan mengelilingi tiga tempat suci Sang Buddha, yaitu tempat lahir, tempat mencapai penerangan sempurna dan tempat Parinibbana, seperti yang sering dilakukan di vihara Borobudur Medan. Ibarat pelita yang menerangi di Hari Suci Waisak, tanpa Bhante dan anggota Sangha di Hari Suci Waisak, hari akan terasa menelusuri jalan yang gelap.

Hari Suci Asadha Hari suci Asadha biasanya diperingati pada bulan Juli, dua bulan setelah Waisak. Hari suci Asadha memperingati hari pertama Sang Buddha memberikan khotbah di Isipatana (Taman Rusa) pada tahun 588 SM, kepada lima pertapa (kondana, Bhadiya, Vappa, Asaji dan Mahanama). Judul khotbah pertama Sang Buddha adalah Dhamma Cakkappavattana Sutta, artinya Berputarnya Roda Dhamma. Hari suci Asadha juga disebut hari Dhamma. Peringatan hari suci Asadha biasanya dilakukan dengan kebaktian hari suci Asadha, yang hampir sama dengan upacara Waisak. Prosesi pada awal kebaktian dapat ditiadakan, demikian juga upacara persembahan. Pimpinan kebaktian menyalakan lilin dan membakar dupa sebelum membaca Namaskara Gatha. Pujian pada Dhamma yang diucapkan adalah Namo Dhammaya dan Vihara Gita yang dinyanyikan adalah Tri Ratna Puja, Hari Asadha atau gita lain yang sesuai. Di hari yang berbahagia ini tentunya kita dapat mengundang anggota Sangha untuk memberikan khotbah Dhamma. Hal ini perlu sekali mengingat pengetahuan kita akan Buddha Dhamma yang perlu terus ditingkatkan dan tentunya selain kita mmepelajari buku-buku Dharma, kita juga memerlukan guru pembimbing yang akan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Tugas ini tentunya tidak mudah, oleh karenanya itu kepada anggota Sangha-lah yang lebih tepat bagi kita untuk meminta petunjuk dalam Dharma. Maka dapatlah kita memahami arti dari ajaran agama Buddha yang sebenarnya secara lebih mendetail karena untuk memperoleh itu adalah suatu hal yang sangat sulit disebabkan petunjuk yang hendak kita minta tidak mungkin didapat dari seorang Buddha (guru para dewa dan manusia) secara langsung, akan tetapi kita dapat memohon bimbingan dari Sangha, siswa Sang Buddha yang condong mempelajari Buddha Dhamma selama hidupnya. Yang telah melepaskan keterikatan dengan duniawi. Yang lebih dekat dengan umat Buddhis dan yang menjadi pembimbing Dhamma sepanjang agama Buddha masih dipelajari di muka bumi ini Perayaan hari suci Asadha ini juga kita jadikan sebagai momen untuk merenungkan kembali Dhamma ajaran Sang Buddha. Dhamma itu sendiri tidak hanya direnungkan saja, akan tetapi perlu kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dalam tingkah laku perbuatan kita sehari-hari. Yang Arya sendiri senantiasa menyadarkan kita dalam khotbahnya agar umat Buddha terus mendekatkan dirinya kepada petunjuk dari Sang Buddha. Dengan memperingati hari suci Asadha kembali mengingatkan kita pada ajaran Sang Buddha yang indah di awal, di tengah dan juga indah di akhir.

Telah menjadi salah satu peraturan di dalam hidup keBhikkhuan yakni menjalani vassa. Masa vassa adalah selama 3 bulan dimulai dari bulan Asadha hingga sampai bulan Kathina. Seorang Bhikkhu setiap satu tahun sekali menjalani vassa selama tiga bulan berturut-turut di suatu tempat. Demikian pula yang dijalani oleh Yang Arya Jinadhammo Maha Thera. Tempat yang sangat baik untuk melakukan vassa adalah tempat yang sunyi dan hening di mana umat biasa (orang awam) yang datang dan pergi sangat sedikit sehingga suasana hening itu terjamin. Lain dengan sekarang, pada masa hidup Sang Buddha dimana anggota Sangha masih berjumlah sedikit, peraturan untuk pengendalian Sangha tidak begitu diperlukan, semua savaka (siswa) melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha. Namun ketika jumlah Bhikkhu makin bertambah (seperti sekarang) dan tersebut di mana-mana, peraturan untuk pengendalian diri untuk para Bhikkhu menjadi lebih diperlukan. Sehingga ketika itu Sang Buddha mempunyai pandangan bahwa seorang Bhikkhu haruslah berdiam di suatu tempat selama 3 bulan untuk berdiam diri serta merenungkan segala perbuatan yang dilakukannya selama satu tahun. Pada waktu itu orang-orang jaman dulu terbiasa untuk tidak berpergian ke mana-mana selama musim hujan karena pada saat itu jalan-jalan berlumpur dan tidak sesuai untuk melakukan perjalanan, dan lagi banyak makhluk-makhluk kecil yang berkeliaran di tanah dan juga tumbuhan yang mulai berkembang sehingga takut terinjak dan mati. Untuk itulah Sang Buddha menetapkan sebuah peraturan bahwa Bhikkhu harus menetap di suatu tempat selama musim hujan atau vassa dan tidak pergi ke tempat-tempat lain selama masa 3 bulan tersebut. Hari pertama pelaksanaan itu disebut Vassupanayika yaitu setelah bulan purnama melewati satu hari dalam blan Asadha (hari pertama pada bulan ke delapan), sedangkan untuk akhir masa vassa disebut Pavarana (upacara akhir Vassa). Pavarana (hari penutup masa Vassa berakhir) biasanya dilakukan pada tanggal lima belas. Apabila Sangha tidak melakukan Pavarana pada hari itu, upacara tersebut dapat ditunda dalam jangka waktu 2 minggu atau 1 bulan atau ada hari-hari lainnya. Jumlah Bhikkhu yang menghadiri kesempatan bagi semua Bhikkhu untuk saling mengingatkan satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi, sehingga berbagai pelanggaran akan segera jernih setelah diselidiki ataupun diakui dan pada kasus yang berat maka si pelanggar akan dikeluarkan dari Sangha. Saat melaksanakan Vassa adalah merupakan saat untuk para Bhikkhu melaksanakan Samanadhamma yaitu dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai atau pelaksanaan meditasi ketenangan dan pandangan terang.

Hari Suci Kathina Usai musim penghujan (musim vassa) di India atau lebih tepatnya setelah hari Waisak, Asadha, Umat Buddha merayakan hari suci yakni hari suci Kathina. Setelah melaksanakan vassa selama 3 bulan berturu-turut, maka pada hari suci tersebut umat memberikan persembahan kepada para anggota Sangha yang menjalani Vassa. Dan hari suci tersebut biasanya diperingait pada tanggal 15 (penanggalan bulan) sekitar bulan Oktober dan November. Pada jaman Sang Buddha, seorang anggota Sangha dilarang melakukan perjalanan di waktu musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim penghujan banyak binatang-binatang kecil yang bisa terinjak di kaki mereka. Oleh karena itu, oleh Sang Bhagava, para anggota Sangha diharuskan menetap di suatu tempat dan biasanya tempat yang dipilih adalah di tengah hutan. Karena selain berdiam selama 3 bulan, para anggota Sangha juga dilatih bermeditasi dan untk setiap rombongan Bhikkhu harus dipimpin oleh seorang Bhikkhu senior (Thera).
Bila musim hujan selesai, diadakan suatu upacara Kathina. Dan setelah acara Kathina selesai para Bhikkhu kembali mengembara, mengemban amanah Sang Buddha menyebarkan ajaran Dhamma ke segala penjuru dunia. Bhante Jinadhammo selama 30 vassa mengabdi telah menjalani 30 kali upacara Kathina, sejak menjalani hidup menjadi seorang Bhikkhu. Boleh dibilang hampir seluruh Rayon I pernah dikunjungi Beliau. Bila perayaan hari suci tiba, Bhante kerap menerima undangan dari daerah untuk menghadiri upacara tersebut. Tak heran jika hari Kathina tiba, Bhante sering kewalahan menghadapi undangan yang ada, tapi itulah Bhante, walau sedikit kesulitan menanggulangi setumpuk undangan tapi Bhante tetap berusaha berbuat yang terbaik untuk Umat.

Walau hari Kathina itu sendiri sudah tak asing lagi bagi Umat Buddha tapi ada baiknya Umat lebih mengetahui kebutuhan dari seorang anggota Sangha. Terdapat 4 kebutuhan pokok seorang anggota Sangha :
1.Jubah. Jubah semata-mata hanya untuk melindungi tubuh dari cuaca panas dan udara yang dingin.
2.Makanan. Untuk kelangsungan hidup dan menjaga tubuh jasmaniah.
3.Obat-obatan. Untuk mengobati penyakit dan mencegah timbulnya penyakit.
4.Penginapan (Kuti) Untuk melindungi diri dari bahaya dan cuaca buruk.
Selain kebutuhan di atas, seorang anggota Sangha juga mempunyai kebutuhan kecil seperti alat-alat tulis, keperluan mandi, alat cukur dan sebagainya. Dan secara khusus dapat dinyatakan dalam (aparidhana sikkhapada, surapavagga ke-10 dan pacittiya) bahwa benda-benda yang menjadi perlengkapan seorang Bhikhu adalah :
-Sebuah mangkok untuk pindapatta.
-Tiga buah jubah yang terdiri dari Sanghati (jubah luar), Uttarasanga (jubah atas), Antaravasaka (jubah bawah) dan ini disebut dengan Civara.
Dan seseorang bila ingin mendapat Upasampada harus memiliki satu perangkat lengkap Civara.
-Sebuah Nisidana yaitu kain untuk tempat duduk.
-kotak jarum jahit dan ikat pinggang (sesuai dengan perkembangan zaman maka keperluan Bhikkhu bertambah seperti:
-Saringan air untuk menyaring air yang kotor.
-Alat-lalat tulis serta buku-buku untuk menambah pengetahuan.
-Sikat gigi serta sabun mandi.
-Pisau cukur.
Khusus mengenai Civara atau jubah dari seorang Bhikkhu harus berwarna kuning kecoklatan (pada waktu dahulu warna tersebut didapat dengan mencelupkan jubah dalam larutan getah dari beberapa jenis pohon yang disebut Kasava-Kasava). Civara dijahit, menurut pola sawah Magadha yang diajukan oleh Y.A. Ananda. Sebagai umat Buddhis maka sudah selayaknya kita berbakti kepada anggota Sangha, yang merupakan wakil dari Sang Buddha di saat ini. Dan pada saat Kathina-lah Umat Buddha diberikan kesempatan untuk berbakti kepada anggota Sangha, yang telah menjadi pelestari dan pelindung ajaran Sang Buddha.

Penghargaan Kerajaan Muangthai Oktober tahun 1998 ada suatu peristiwa yang cukup bersejarah dalam kehidupan Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera. Kerajaan Muangthai, dalam rangka ulang tahun Raja Bhumibol telah memberikan penghargaan kepada Bhikkhu-Bhikkhu Theravada senior di manca negara, termasuk Y.A. Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera (mewakili Indonesia). Penghargaan diserahkan dalam acara Royal Kathina di Vihara Borobudur Medan. Atas nama Raja Bhumibol, Putri Galyani Vadhana (kakak raja) didampingi Duta Besar Muangthai untuk Indonesia dan rombongan anggota kerajaan (70 orang) menyerahkan Dana Kathina dan penghargaan (kipas penghargaan) Pada kesempatan tersebut Bhante Jinadhammo bersama Bhante Vin (dharmaduta Muangthai untuk Indonesia) yang juga merupakan Acariya (guru pembimbing) Bhante Jinadhammo sendiri. Beliau juga didampingi oleh Sekjen Sangha Agung Indonesia, Bhikkhu Sthavira Arya Maitri. Peristiwa Kathina tersebut sangat menggugah perasaan umat Buddha di Sumatera Utara (Indonesia). Ternyata pihak kerajaan Muangthai, dari negara lain pun menaruh rasa hormat dan penghargaan kepada Bhante Jinadhammo. Mudah-mudahan dengan adanya peristiwa Royal Kathina tersebut dapatlah memberi hikmah dan pengalaman yang berharga bagi umat Buddha Indonesia.

RANGKUMAN KEGIATAN Y.A. Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera adalah seorang yang besar peranannya bukan hanya di dalam lingkungan Vihara, tetapi sebagai ronahiawan Beliau dikenal sangat sederhana dan ringan langkah dalam menjalan kegiatan-kegiatan di luar lingkungan vihara di antaranya adalah sebagai berikut :
-Mendirikan Vihara/Cetiya di daerah pedalaman, agar masyarakat Buddhis yang ada di sana dapat mengadakan Puja Bhakti serta belajar Dharma.
-Membentuk Yayasan Vihara/Cetiya sebagai sarana bagi umat Buddha baik itu orang tua, pemuda, remaja bahkan sampai anak-anak agar dapat melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan dari Tk. I sampai Tk. II bahkan Tk. III.
-Memberikan bimbingan dan nasehat sesuai dengan pandangan Buddha Dharma dalam suka maupun duka kepada masyakarat yang membutuhkan. Beliau menjalani tugas-tugas sebagai Ketua Sangha Agung Indonesia Rayon I, mencakup wilayah Sumbagut, Sumbar, Riau dan sekitarnya. Dalam 1 tahun saja Beliau harus mengelilingi semua daerah-daerah tersebut beberapa kali untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan seperti Hari Tri Suci Waisak, Kathina, Asadha dll., belum lagi Beliau harus bertanggung jawab dalam melakukan Visudhi Trisarana umat, upasaka/upasika, para pandita, serta samanera/samaneri.
-Memberikan Khotbah Dhamma pada acara-acara kebaktian umum maupun kebaktian pelajar serta Hari-hari Besar Agama Buddha (Waisak, Khatina, Asadha, Metta, Magha Puja dll.) yang diadakan di Vihara/Cetiya maupun Sekolah/Universitas di kota Medan maupun daerah-daerah.
-Mengunjungi Panti Asuhan, rumah Jompo, rumah sakit kusta bahkan membacakan doa (paritta) di kuburan Massal.
-Menjadi saksi dalam upacara janji/penyumpahan pegawai negeri sipil maupun militer, dokter-dokter, apoteker yang diwisuda khususnya yang beragama Buddha.
-Atas undangan umat Beliau juga melakukan pemberkatan upacara perkawinan Buddhis, memberkati rumah baru, membacakan paritta (doa) bagi yang sakit, membacakan paritta (doa) bagi orang meninggal, dll. -Menghadiri undangan-undangan pemerintahan dalam hal ini seperti menghadiri sidang Paripurna DPRD Tk. I. Sumatera Utara setiap tanggal 16 Agustus, menghadiri upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka, mengikuti acara renungan suci di Taman Makam Pahlawan setiap 17 Agustus tepatnya pukul 00.00 WIB, mengikuti acara doa bersama.
-Mengikuti pertemuan dalam acara dengar pendapat di Kantor Departeman Agama Medan, mengikuti Semiar Ekonomi Buddhis Cendekiawan Beragama di Bina Graha Medan (sebagai utusan Agama Buddha), sebagai Penatar P4 untuk kalangan Agama Buddha di Tebing Tinggi. Juga sebagai Penatar guru-guru dan dosen-dosen Agama Buddha se-Sumatera.
-Sebagai Dosen di IIAB -Turut serta menerima kunjungan Menteri Agama Alamsyah Ratu Prawiranegara di Bina Graha Medan. Ikut meresmikan Kantor Departemen Agama yang baru oleh Bapak Menteri Agama Munawir Shadzali.
-Mengikuti Kongres WBSC (World Buddhis Sangha Council) III sebagai anggota delegasi Indonesia tahun 1981 di Taipei Grand Hotel, Taiwan.
-Turut serta mempersiapkan Kongres WBSC IV di Pulau Pinang, Malaysia tahun 1985.
-Ketua Delegasi Indonesia dalam Kongres WBSC IV di Bangkok, Thailand, 1986.
-Mengikuti persiapan Kongres WBSC V di Nusa Dua, Bali, tahun 1991, tetapi karena suatu halangan Beliau tidak hadir dalam Kongres tersebut yang diselenggarakan kemudian di Taipei. Dan sampai sekarang Beliau masih tercatat sebagai anggota WBSC.

Dan kebanyakan yang meminta kesedian Beliau umumnya tidak pernah ditolak kecuali jika ada tugas-tugas penting dan bersamaan waktunya. Ini beberapa pengalaman umat yang meminta Beliau melakukan aktivitas-aktivitas di luar Vihara seperti yang saya (red. Cyrus) alami, di mana waktu itu tanggal 23 Desember 1995 tepat pukul 22.00 WIB, dimana Beliau seharusnya beristirahat, tetapi karena panggilan saya agar Beliau bersedia untuk membacakan paritta bagi Alm. paman saya yang meninggal saat itu. Karena pada saat itu kebetulan Ibu saya lagi di Jakarta, maka saya tidak tahu harus berbuat apa dan satu-satunya yang teringat di pikiran saya agar Bhante membacakan paritta supaya almarhum paman saya meninggal dengan tenang. Begitu saya minta kesediaan Beliau, tanpa sedikitpun alasan, Beliau bersedia ke rumah saya dan membacakan paritta, hal ini juga bukan karena saya aktivis Vihara.

Demikian juga yang dialami oleh dr. Leo Mirah (teman saya). Dia hanyalah umat Buddha tradisi yang lebih dikenal sebagai Buddha KTP, dimana saat itu dia sangat membutuhkan Y.A. Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera untk pengambilan sumpah kedokteran yang diharuskan oleh universitas. Y.A. Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera menyanggupinya sehingga sekarang dr. Leo Mirah sudah aktif membantu di Vihara Metta Jaya dalam hal membina gelanggang anak-anak Buddhis dan menjadi dokter sukarelawati di Poliklinik Metta Jaya. Hal ini langsung maupun tidak langsung karena simpati dari Beliau sehingga umat awam biasa seperti dr. Leo Mirah akhirnya dapat menjadi aktif di Vihara.

Hal serupa juga dialami rekan saya dr. Djauhery di mana saat itu Bhante Jinadhamo diminta kesediaannya dalam hal penyumpahan kedokteran dalam acara wisuda kedokteraan USU. Saat dimana Beliau menyatakan bersedia dan para wisudawan tidak perlu menyediakan apa-apa, tetapi karena sesuatu hal Beliau lupa membawa dupa (hio) sehingga sewaktu pengambilan sumpah Beliau lantas menggunakan lidi kemudian seluruh wisudawan yang beragama Buddha mengikuti ucapan membaca Paritta/doa.

Demikian juga dalam hal pemberkahan pernikahan di vihara, hal ini pernah terjadi di mana sepasang pengantin tidak melaksanakan pernikahan Buddhis sebagaimana biasanya, tetapi mereka langsung datang ke vihara dan saat itu mereka menjumpai Y.A. Bhikkhu Jinadhammo Maha Thera dan meminta Beliau untuk memberkahi kedua mempelai pengantin tersebut. Cara sederhana dan simpelnya upacara keagamaan yang Beliau lakukan untuk umat-umat awam yang belum begitu mengenal Buddha Dharma membawa simpati yang cukup mendalam, sehingga dapat membawa rasa ingin tahu terhadap Buddha Dharma semakin besar dan hal ini juga membawa nama Beliau selalu dihormati oleh umat Buddha di kota Medan khususnya dan Sumatera umumnya.

Seperti yang kita ketahui Beliau memperdalam ilmunya bukan hanya di dalam negeri tetapi Beliau juga melangkahkan kakinya ke Negara Thailand selama 3 vassa. Dan pada kesempatan yang baik itu pula Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, selain belajar Beliau juga mengunjungi desa-desa untuk mengetahui dan mempelajari secara langsung kehidupan apra Bhikkhu di Negeri Buddhis tersebut. Beliau telah menjalani 30 vassa hingga kini, 3 vassa di luar negeri dan 27 vassa di dalam negeri hingga sekarang Beliau banyak melakukan kegiatannya terutama untuk umat Buddha di Indonesia khususnya di Sumatera Utara. Dalam hal ini banyak sudah penghargaan yang Beliau miliki bahkan sebagian besar jasanya tidak dapat ternilai. Beliau merupakan Sangha tertua dalam menjalani vassa saat ini di Sumatera Utara, dan Beliau dikenal ramah, sederhana dan kadang-kadang dapat dikatakan aneh/antik sebab sebagian besar pengarahannya dilakukan melalui banyak perumpamaan yang kadang-kadang tidak dimengerti oleh orang yang diarahkan, sehingga orang tersebut harus benar-benar merenungkan dan menilai sendiri apa yang diucapkan Beliau.

Bhikkhu

Bhikkhu Jinadhammo Mahathera

Saat ini Eyang (Bhikkhu Jinadhammo Mahathera) telah menyelesaikan 40 massa Vassa