Hampir semua agama besar di dunia ini terimbas oleh pemikiran primitif atas menstruasi (datang bulan). Pada waktu menstruasi, kegiatan keagamaan kaum wanita dibatasi secara kolot. Mereka tidak diperkenankan untuk menyentuh apalagi membaca kitab suci, memasuki tempat ibadah, menjalankan kegiatan keagamaan, dan sebagainya. Wanita yang sedang menstruasi dianggap sebagai wanita yang kotor (tidak suci), yang harus diisolasi. Pada pihak lain, Buddhisme memandang menstruasi sebagai suatu proses jasmaniah yang bersifat alamiah sebagaimana yang diakui dalam ilmu pengetahuan modern.

Kesucian batiniah tidaklah terpengaruh oleh keadaan jasmaniah. Apabila bagian tubuh yang kotor dianggap dapat menodai kesucian batin, maka kesucian itu tidak lebih adalah suatu khayalan belaka yang tidak pernah dapat diraih oleh umat manusia. Betapa tidak! Seluruh bagian tubuh ini, bukan hanya sel telur dan darah dalam bentuk menstruasi, adalah sesuatu yang kotor, menjijikkan (asubha). Dari kulit keluar keringat, dari hidung keluar ingus, dari dubur keluar tahi, dari kelamin keluar air kencing, dsb. Lalu, apa beda antara menstruasi dengan semua kotoran tersebut? Pandangan keagamaan yang picik itulah, yang semakin membuat wanita yang sedang menstruasi mudah terkena stress, gampang uring-uringan, merasa rendah diri, kurang percaya diri dan sebagainya. Dalam keadaan yang rawan inilah, wanita justru membutuhkan pedoman spiritual dan membutuhkan ketenangan batin agar mereka lebih percaya diri dan tidak mudah stress.

“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, `Petapa itu adalah guru kami. `Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, `Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan`, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.”

(Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)

Source: WebGaul Forum dengan sedikit penambahan