Pada suatu ketika Ratu Mallika melahirkan anak perempuan. Sang Raja tidak gembira dengan berita tersebut. Pada zaman India kuno, seperti yang masih terjadi pada saat ini, seorang anak perempuan tidak menambah kebahagiaan sebuah keluarga karena beberapa alasan, misalnya, masalah penyediaan mas kawin pada saat pernikahan. Sang Buddha, tidak seperti guru agama-agama lain, memberikan penghargaan yang begitu besar kepada wanita dan menyebutkan ciri-ciri utama yang menghiasi seorang wanita dengan kata-kata sebagai berikut:

“Beberapa wanita memang lebih baik (daripada laki-laki).
Besarkan dia, Oh Penguasa Manusia.
Ada wanita yang bijaksana, berbudi luhur, yang menganggap
ibu mertua sebagai dewi, dan yang suci.
Untuk istri yang mulia seperti itu mungkin akan lahir anak yang gagah berani, seorang penguasa
alam, yang akan memerintah sebuah Kerajaan.”

Beberapa wanita bahkan lebih baik daripada pria. Selama masa Buddha kita, tidak ada guru agama yang berani untuk memberikan ucapan berani dan yang mulia seperti itu, terutama di India, di mana martabat perempuan tidak dihargai (Pada waktu itu). Oleh karena itu juga Sang Buddha menaikkan status perempuan yang tertindas dan tidak hanya menyadarkan bahwa begitu pentingnya mereka didalam masyarakat, tetapi juga mendirikan persamuhan (Organisasi) religius pertama di dunia (Sangha Bhikkhuni) untuk perempuan dengan aturan dan peraturan.

Sang Buddha tidak meremehkan wanita, tetapi hanya menganggap mereka lemah sesuai kodrat. Beliau juga mengatakan baik laki-laki maupun perempuan dapat melaksanakan ajarannya. Jenis kelamin bukanlah halangan seseorang untuk mencapai kesucian.