“Pada masa yang akan datang, sepuluh Bodhisatta akan mencapai Penerangan Sempurna
dalam urutan sebagai berikut: Yang Maha Mulia Metteya, Raja Rama, Raja Pasenadi Kosala,
Dewa Abhibhu, Asura Deva Dighasoni, Brahmana Candani, Pemuda Subha, Brahmana Todeyya,
Gajah Nalagiri, dan Gajah Palaleya.”
(Anagatavamsa)

A. Pendahuluan
Bagi umat Buddha, nama Metteya bukanlah sesuatu yang asing di telinga. Metteya adalah kata dalam bahasa Pali untuk kata Sanskerta Maitreya. Dalam bahasa Cina ia disebut Mi Le Fo atau Bi Lek Hud, sedangkan dalam bahasa Jepang disebut Miroku. Beliau adalah Buddha yang akan datang sebagai pengganti Buddha Gotama (Gautama/Sakyamuni) yang kita kenal saat ini. Beliau merupakan Buddha yang sedang ditunggu kedatangannya oleh semua umat Buddha di seluruh dunia.
Kata Metteya (Maitreya) berasal dari kata metta (maitri) yang berarti cinta kasih. Jadi, Metteya berarti Ia yang Memiliki Cinta Kasih. Metteya (Maitreya) sekaligus juga merupakan nama keluarga Beliau (seperti Gotama adalah nama keluarga Buddha Sakyamuni). Dalam tulisan ini, kita akan membahas tentang perjalanan karier Bodhisatta Metteya, bagaimana Beliau mencapai Kebuddhaan, dan bagaimana keadaan dunia saat Beliau menjadi Buddha.

B. Bodhisatta Metteya
Tujuan terbesar hidup manusia menurut Buddha Dhamma ialah mencapai Penerangan Sempurna (Bodhi) sehingga tercapailah kebahagiaan tertinggi Nibbana (Nirvana). Mereka yang bercita-cita untuk mencapai Penerangan Sempurna disebut Bodhisatta (Bodhisattva). Ada tiga macam Bodhisatta, yaitu:

1. Mereka yang bercita-cita mencapai Penerangan Sempurna dengan menjadi siswa seorang Samma Sambuddha, disebut Savaka Bodhisatta. Jika telah mencapai Penerangan Sempurna, Savaka Bodhisatta akan menjadi seorang Savaka Buddha atau lebih dikenal sebagai seorang Arahat. Contohnya seperti Y.A. Bhikkhu Sariputta, Y.A. Bhikkhu Moggallana, dan Y.A. Bhikkhu Ananda yang merupakan para siswa Buddha Gotama.

2. Mereka yang bercita-cita mencapai Penerangan Sempurna melalui usaha sendiri, tetapi tidak mengajarkan semua makhluk jalan menuju Nibbana, disebut Pacceka Bodhisatta. Jika telah mencapai Penerangan Sempurna, Pacceka Bodhisatta akan menjadi seorang Pacceka Buddha yang muncul pada masa peralihan satu Samma Sambuddha dengan Samma Sambuddha berikutnya di mana terjadi kekosongan Dhamma (Dharma). Misalnya, Pacceka Buddha Atthissara yang akan muncul ketika ajaran (sasana) Buddha Gotama lenyap kelak. Beliau adalah Bhikkhu Devadatta yang hidup pada masa Buddha Gotama.

3. Mereka yang bercita-cita mencapai Penerangan Sempurna melalui usaha sendiri dan mengajarkan semua makhluk jalan menuju Nibbana, disebut Maha Bodhisatta. Jika telah mencapai Penerangan Sempurna, Maha Bodhisatta akan menjadi seorang Samma Sambuddha (Buddha yang maha sempurna). Samma Sambuddha pada masa sekarang adalah Buddha Gotama; pada masa depan akan muncul Samma Sambuddha bernama Metteya.

Pada tulisan ini istilah Bodhisatta menunjuk pada Maha Bodhisatta.
Semua Bodhisatta menjalankan dasa paramita (sepuluh kesempurnaan) guna mencapai tingkat Kebuddhaan. Seorang Samma Sambuddha adalah makhluk yang paling mulia di antara semua makhluk dan persiapan untuk mencapai tingkat Kebuddhaan ini memakan waktu paling lama dibandingkan persiapan untuk menjadi Arahat atau Pacceka Buddha. Maha Bodhisatta harus menjalankan dasa paramita paling kurang selama empat asankheyya dan seratus ribu kappa (kalpa).

Ada empat macam kappa yang dikenal dalam kitab suci Tipitaka (Tripitaka), yaitu:
1. Ayu kappa ialah kappa yang berkenaan dengan umur rata-rata manusia, pada jaman Buddha Gotama umur rata-rata manusia adalah 100 tahun.

2. Antara kappa ialah kappa selang, yaitu selang waktu antara umur manusia rata-rata 10 tahun, kemudian naik menjadi tak terhitung (bisa jutaan atau milyaran tahun), kemudian turun lagi hingga menjadi 10 tahun lagi.

3. Maha kappa ialah satu siklus dunia yaitu lamanya siklus pembentukan bumi, hancur dan terbentuk kembali. Waktunya lebih lama dari yang diperlukan untuk mengusap habis sebuah batu cadas yang utuh padat, dan mulus dengan kain sutra yang halus setiap seratus tahun sekali, atau waktu yang diperlukan untuk menghabiskan biji mustard yang disusun rapi berjumlah satu mil kubik dan diambil satu butir setiap seratus tahun sekali jumlahnya lebih dari trilyunan.

4. Asankheyya kappa, ada dua interpretasi asankheyya kappa, yaitu, asankheyya kappa yang merupakan 1 bagian dari empat bagian siklus dunia (seperempat maha kappa). dan asankheyya kappa yang merupakan jumlah dari mahakappa-mahakappa tak terhitung, seperti yang tertulis dalam Buddhavamsa.

Menurut Samyutta Nikaya Atthakatha, Maha Bodhisatta dapat dibedakan atas tiga jenis:

1. Mereka yang memiliki kebijaksanaan (panna) yang kuat, disebut Pannadhika Bodhisatta. Mereka akan menjadi Samma Sambuddha dalam waktu sekurang-kurangnya empat asankheyya dan seratus ribu kappa.

2. Mereka yang memiliki keyakinan (saddha) yang kuat, disebut Saddhadhika Bodhisatta. Mereka akan menjadi Samma Sambuddha dalam waktu sekurang-kurangnya delapan asankheyya dan seratus ribu kappa.

3. Mereka yang memiliki semangat (viriya) yang kuat, disebut Viriyadhika Bodhisatta. Mereka akan menjadi Samma Sambuddha dalam waktu sekurang-kurangnya enam belas asankheyya dan seratus ribu kappa.
Bodhisatta yang menjadi Buddha Gotama merupakan jenis Pannadhika Bodhisatta, sedangkan Bodhisatta Metteya merupakan jenis Viriyadhika Bodhisatta.

Ketiga jenis Bodhisatta di atas ditentukan oleh berapa lama mereka mengembangkan kesempurnaan ketika mereka membuat pernyataan untuk menjadi Samma Sambuddha. Pada saat menyatakan pernyataan ini, mereka telah siap untuk mencapai tingkat Arahat. Saat itu mereka dapat menjadi Arahat hanya dengan mendengar beberapa baris ajaran yang singkat dari seorang Samma Sambuddha.

1. Pannadhika Bodhisatta dapat menjadi Arahat setelah mendengar kurang dari tiga baris ajaran.
2. Saddhadhika Bodhisatta dapat menjadi Arahat setelah mendengar kurang dari empat baris ajaran.
3. Viriyadhika Bodhisatta dapat menjadi Arahat setelah mendengar empat baris ajaran.
Kelihatannya Buddha Gotama lebih maju dibandingkan Buddha masa depan Metteya, tetapi perbedaan ini berhubungan dengan kenyataan bahwa Viriyadhika Bodhisatta mengembangkan paramita empat kali lebih lama daripada Pannadhika Bodhisatta.

Seorang Bodhisatta mengawali kariernya dengan membuat pernyataan (abhinihara) di depan seorang Samma Sambuddha bahwa ia berkehendak menjadi seorang Samma Sambuddha demi kesejahteraan semua makhluk. Abhinihara seorang Bodhisatta berbunyi sebagi berikut:
“Terseberangkan, aku akan menyebabkan semua makhluk menyeberang (ke Pantai Seberang/Nibbana); terbebaskan, aku akan menyebabkan semua makhluk terbebaskan (dari penderitaan); menjinakkan, aku akan menjinakkan semua makhluk; menenangkan, aku akan menyebabkan semua makhluk menjadi tenang; terhibur, aku akan menyebabkan semua makhluk terhibur; padam sepenuhnya, aku akan menyebabkan semua makhluk memadamkan (nafsu keinginan) sepenuhnya; tersadarkan, aku akan menyebabkan semua makhluk tersadarkan (yaitu mencapai Bodhi); tersucikan, aku akan menyebabkan semua makhluk tersucikan.”

Abhinihara ini akan efektif bila Bodhisatta telah memenuhi delapan syarat berikut:
1. Ia harus seorang manusia.
2. Ia harus seorang laki-laki.
3. Ia harus memiliki kemampuan untuk menjadi Arahat pada kehidupan itu juga.
4. Ia harus memberikan pernyataan itu di depan Samma sambuddha.
5. Ia harus seorang bhikkhu atau seorang pertapa yang percaya akan hukum kamma (karma).
6. Ia telah mencapai tingkat Jhana (tingkat pemusatan pikiran yang dihasilkan dalam meditasi).
7. Ia bersedia mengorbankan segala sesuatu miliknya, termasuk hidupnya.
8. Ia memiliki tekad yang kuat sehingga tak ada yang dapat menggoyahkan cita-citanya untuk menjadi seorang Samma Sambuddha.
Sehubungan dengan Buddha Gotama, pada kehidupan lampaunya sebagai seorang pertapa bernama Sumedha, abhinihara-nya dinyatakan di depan Samma Sambuddha Dipankara di Amaravati. Setelah mendengar abhinihara, Buddha Dipankara melihat ke masa depan dengan kekuatan batinnya. Beliau menyatakan bahwa tekad tersebut akan terpenuhi dan pada masa yang akan datang seorang Samma Sambuddha bernama Gotama akan muncul di dunia. Pernyataan Samma Sambuddha ini disebut vyakarana. Mendengar vyakarana Buddha Dipankara, sesuai dengan kebiasaan para Bodhisatta, Pertapa Sumedha melakukan penyelidikan tentang syarat-syarat yang perlu ia penuhi demi tercapainya Kebuddhaan. Syarat-syarat tersebut tak lain adalah dasa paramita.

Dasa paramita adalah sepuluh kesempurnaan yang harus dipenuhi oleh seorang Bodhisatta guna mencapai Penerangan Sempurna. Mereka adalah dana (pemberian), sila (moralitas), nekkhamma (pelepasan keduniawian), panna (kebijaksanaan), viriya (semangat), sacca (kebenaran/kejujuran), aditthana (keteguhan hati), metta (cinta kasih), dan upekkha (keseimbangan batin).

Bodhisatta Metteya membuat pernyataannya untuk menjadi Buddha di hadapan Buddha Mahutta. Bodhisatta Metteya disebutkan pernah berhubungan dengan Bodhisatta yang menjadi Buddha Gotama setidaknya dalam dua kehidupan lampau, yaitu ketika Buddha Gotama adalah seorang guru agama dan Bodhisatta Metteya merupakan salah satu pengikut-Nya, serta ketika Buddha Gotama adalah seorang raja bernama Atideva dan Bodhisatta Metteya menjadi pendeta sang raja yang bernama Sirigutta.

Salah satu cerita tentang Bodhisatta Metteya membuat pernyataan untuk menjadi seorang Samma Sambuddha dikisahkan Buddha Gotama kepada Y.A. Bhikkhu Sariputta ketika Beliau berdiam dekat Savatthi di Pubbarama, sebuah vihara persembahan upasika Visakha.
Pada zaman dahulu Bodhisatta Metteya terlahir sebagai raja dunia (cakkavatti) bernama Sankha yang berkuasa di kota Indapatta dalam kerajaan Kuru. Kota besar ini menyerupai kota para dewa. Raja Sankha memerintah seluruh dunia dan memiliki tujuh harta mulia, yaitu sebuah roda agung, gajah, kuda, permata, istri, kepala rumah tangga, dan penasehat. Raja Sankha tinggal di istana berlantai tujuh yang terbuat dari tujuh macam permata. Istana ini dapat berdiri karena kekuatan jasa pahala sang raja. Raja Sankha mengajarkan rakyatnya untuk mengikuti jalan yang membawa kelahiran kembali di alam yang lebih tinggi dan menegakkan hukum dengan adil. Setelah Sankha menjadi raja dunia, muncullah Buddha Sirimata.

Kapan pun seorang Bodhisatta terlahir kembali dalam kehidupan terakhirnya, akan ada sebuah pemberitahuan kedatangan seorang Buddha seribu tahun sebelumnya. Para dewa brahma dari alam kediaman murni (suddhavasa) berjalan mengelilingi alam manusia dan mengumumkan: “Seribu tahun dari sekarang seorang Buddha akan muncul di dunia.” Raja Sankha telah mendengar pemberitahuan ini. Suatu hari ketika duduk di singgasana emas di bawah payung putih kerajaan, ia berkata,”Dulu ada pemberitahuan bahwa seorang Buddha akan lahir. Aku akan memberikan kedudukan raja dunia kepada siapa pun yang mengetahui Tiga Mustika (Tiratana/Triratna), siapa pun yang menunjukkan kepadaku Mustika Buddha, Dhamma, dan Sangha. Aku akan pergi untuk berjumpa Buddha Yang Tertinggi.”

Saat itu Buddha Sirimata berdiam hanya enam belas league (1 league = 3 mil) dari ibukota kerajaan. Di antara para samanera (calon bhikkhu) dalam Sangha, ada seorang anak yang datang dari keluarga miskin. Ibunya adalah seorang budak sehingga sang samanera datang ke kota untuk membebaskan ibunya. Ketika orang-orang melihatnya, mereka berpikir ia adalah seorang yakkha (makhluk halus) atau raksasa sehingga mereka melempari sang samanera. Karena ketakutan, ia berlari ke dalam istana dan berdiri di depan Raja Sankha.

“Siapakah engkau, anak muda?” tanya sang raja.
“Aku adalah seorang samanera, O raja besar,” jawab sang samanera.
“Mengapa engkau menyebut dirimu seorang samanera?”
“Karena, O raja besar, aku tidak berbuat jahat, aku telah melatih diriku dalam sila dan menjalankan kehidupan suci. Oleh sebab itu, aku disebut seorang samanera.”
“Siapa yang memberikan nama itu kepadamu?”
“Guruku, O raja besar.”
“Disebut apakah gurumu itu, anak muda?”
“Guruku disebut seorang bhikkhu, O raja besar.”
“Siapa yang memberikan nama ‘bhikkhu’ pada gurumu, anak muda?”
“O raja besar, nama guruku diberikan oleh Mustika Sangha yang tak ternilai harganya.”
Dipenuhi kegembiraan, Raja Sankha turun dari singgasananya dan bersujud di kaki sang samanera. Ia bertanya, “Siapakah yang memberikan nama itu kepada Sangha?”

“O raja besar, Yang Maha Mulia Buddha Sirimata memberikan nama itu kepada Sangha.”
Mendengar kata “Buddha” yang sangat sulit didengar dalam ratusan ribu kappa, Raja Sankha jatuh pingsan karena gembira. Ketika sadar, ia bertanya, “Yang Mulia, di manakah Yang Maha Mulia Buddha Sirimata berdiam sekarang?”
Sang samanera mengatakan bahwa Sang Buddha sedang berdiam di vihara Pubbarama, enam belas league jauhnya. Raja Sankha sesuai janjinya memberikan kekuasaan raja dunia kepada sang samanera, termasuk kerajaan dan semua sanak keluarganya. Dipenuhi dengan kegembiraan untuk berjumpa dengan Sang Buddha, ia berjalan kaki ke utara menuju Pubbarama. Pada hari pertama sol sepatunya robek. Pada hari kedua kakinya mulai berdarah. Ia tidak dapat berjalan pada hari ketiga sehingga ia bergerak dengan tangan dan lututnya. Pada hari keempat tangan dan lututnya berdarah sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan dadanya. Kegembiraan akan kemungkinan bertemu Sang Buddha memungkinkan ia mengalahkan kesakitan dan penderitaan yang ia alami.

Buddha Sirimata melihat dunia dengan Mata Buddha-Nya dan melihat kekuatan semangat (viriya-bala) sang raja. Sang Buddha berpikir, “Raja Sankha memiliki benih Kebuddhaan. Ia menanggung penderitaan hebat karena Aku. Tentu saja, Aku harus datang kepadanya.” Dengan kekuatan batinnya, Sang Buddha menyembunyikan kemuliaan-Nya dan menyamar sebagai seorang pemuda di dalam kereta. Ia pergi ke tempat Sankha berada dan menghalangi jalannya untuk menguji kekuatan semangat sang raja.

“Kamu di sana!” Buddha Sirimata berkata kepada Raja Sankha, “Menyingkirlah! Aku sedang melakukan perjalanan melalui jalan ini.” Tetapi Raja Sankha menolak dengan mengatakan bahwa ia dalam perjalanan untuk bertemu Sang Buddha. Sang Buddha dalam penyamaran-Nya mengundang sang raja masuk ke dalam kereta dengan mengatakan bahwa ia juga sedang menuju tempat yang sama. Dalam perjalanan, Dewi Sujata turun dari surga Tavatimsa dan mengambil wujud seorang gadis muda mempersembahkan makanan. Sang Buddha menyuruh agar makanan itu diberikan kepada Sankha. Kemudian Sakka, raja para dewa, dalam wujud seorang pemuda, turun dari surga Tavatimsa dan memberikan air. Karena mengkonsumsi makanan dan minuman para dewa, semua kesakitan dan penderitaan Raja Sankha menghilang.

Ketika mereka tiba di Pubbarama, Sang Buddha duduk di tempat duduk-Nya di dalam vihara, menampakkan wujud asli-Nya dengan sinar enam warna yang memancar dari tubuh-Nya. Ketika sang raja melihat Sang Buddha, ia kembali jatuh pingsan. Setelah sadar, ia datang mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan.
“Yang Mulia,” ia berkata, “Pelindung Dunia, Tempat Berlindung Bagi Dunia, ajarkanlah aku satu ajaran yang dapat menenangkan diriku ketika mendengarnya.”

Sang Buddha kemudian mengajarkan ajaran tentang Nibbana kepada sang raja. Ini menimbulkan rasa hormat sang raja kepada Dhamma, tetapi setelah mendengarkan sedikit ajaran, ia meminta kepada Sang Buddha, “Kumohon berhentilah, O Yang Diberkahi. Janganlah ajarkan aku lebih banyak lagi.” Ia mengatakan hal ini karena ia berpikir bahwa ia tidak memiliki pemberian yang layak untuk apa yang telah Sang Buddha ajarkan jika ia mendengar lebih banyak lagi.

“Sesungguhnya, Yang Mulia, dari semua Dhamma yang diajarkan, Yang Diberkahi menitikberatkan pada Nibbana yang merupakan yang tertinggi. Jadi, dari semua bagian tubuhku, aku akan memberikan penghormatan kepada ajaran-Mu dengan kepalaku.” Ia mulai memotong lehernya dengan kuku jarinya dan berkata, “Yang Mulia Buddha Sirimata, saya akan meninggal dahulu, tetapi melalui pemberian dari kepala saya ini, saya akan mencapai Nibbana kemudian. Dengan mengatakan beberapa kata ini, saya memberikan penghormatan kepada ajaran tentang Nibbana. Semoga ini menjadi alat untuk pencapaian Penerangan Sempurna saya.”

Sifat Raja Sankha yang menonjol adalah semangat yang besar. Ini ditunjukkan dengan ditanggungnya semua kesulitan dalam perjalanan untuk berjumpa Buddha Sirimata. Usahanya begitu kuat sehingga Sang Buddha menyadari bahwa ia seorang Maha Bodhisatta. Ia sangat dermawan sehingga bersedia menyerahkan posisi tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang manusia kepada orang lain walaupun belum bertemu dengan Buddha Sirimata.

Perbuatan terakhir Raja Sankha yang mempersembahkan kepalanya kepada Buddha Sirimata mungkin kedengarannya aneh bagi kita. Ini dapat dipahami karena Raja Sankha tidak menemukan sesuatu yang layak dibandingkan dengan Nibbana sehingga ia memberikan kepalanya untuk menghormati Nibbana yang tertinggi.

Pada masa Buddha Gotama, Bodhisatta Metteya terlahir sebagai seorang bhikkhu bernama Ajita. Menurut Anagatavamsa Atthakatha, Ajita adalah putra dari Raja Ajatasattu dan Ratu Kancanadevi. Pangeran Ajita memiliki lima ratus orang pelayan dan ketika ia berusia enam belas tahun, raja meminta agar anaknya mewarisi harta pusaka Sang Buddha. Sang pangeran menyetujuinya sehingga ayahnya membawanya ke vihara Veluvana dalam kebesaran dan kemuliaan bersama lima ratus orang pelayannya. Lalu Pangeran Ajita ditahbiskan sebagai seorang samanera.
Menurut Vinaya (aturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni), seseorang yang ingin menjadi bhikkhu atau bhikkhuni haruslah berusia sekurang-kurangnya dua puluh tahun. Jika belum genap berusia dua puluh tahun, orang tersebut harus ditahbiskan dahulu sebagai samanera (calon bhikkhu) atau samaneri (calon bhikkhuni); setelah berusia dua puluh tahun barulah ia ditahbiskan sebagai bhikkhu atau bhikkhuni.

Karena kedamaian, ketenangan, dan kebijaksanaannya, Samanera Ajita mendapatkan banyak penghormatan dari anggota Sangha lainnya. Kemudian ia pun ditahbiskan sebagai bhikkhu. Buddha Gotama membawa serta Y.A. Bhikkhu Ajita ketika Beliau pergi dari Rajagaha ke Kapilavatthu untuk berdiam di vihara Nirodharama.
Ketika mereka berdiam di Nirodharama, suatu hari ibu tiri Buddha Gotama, Ratu Maha Pajapati Gotami, datang mempersembahkan dua jubah khusus kepada Sang Buddha. Di sini Sang Buddha menolak pemberian sang ratu sampai tiga kali dan menyarankan agar jubah tersebut dipersembahkan kepada Sangha. Y.A. Bhikkhu Ananda mendekati Sang Buddha dan mendesak Beliau agar menerima pemberian tersebut. Kemudian Sang Buddha memberikan kotbah tentang berdana.
Pada akhir kotbah, Sang Buddha menerima satu jubah dan menyuruh ibu tiri-Nya mempersembahkan jubah yang lain kepada Sangha. Namun demikian, tidak satu pun dari delapan puluh siswa utama datang untuk menerima persembahan jubah tersebut. Akhirnya, Y.A. Bhikkhu Ajita yang berpikir bahwa Sang Buddha menyuruh ibu tirinya untuk memberikan jubah kepada Sangha demi kebaikan sang ratu juga, dengan berani bagaikan raja singa di tengah-tengah Sangha, maju ke depan dan menerima jubah tersebut.

Terjadilah banyak kekecewaan dan gunjingan tentang bagaimana seorang bhikkhu yang tidak dikenal dapat menerima jubah tersebut ketika tak satu pun siswa-siswa utama Sang Buddha menerimanya. Mengetahui situasi ini dan untuk menghilangkan keragu-raguan, Buddha Gotama berkata, “Janganlah mengatakan bahwa bhikkhu ini adalah bhikkhu biasa. Ia adalah seorang Bodhisatta yang akan menjadi Buddha yang akan datang, Metteya.” Kemudian Sang Buddha mengambil mangkuk yang diberikan oleh empat Raja Dewa tak lama setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna dan melemparkannya ke udara. Tidak satu dari delapan puluh siswa utama dapat mengambilnya kembali. Y.A. Bhikkhu Ajita, yang memahami bahwa Sang Buddha bermaksud agar ia menunjukkan kekuatan batinnya, mengambil kembali mangkuk tersebut dengan mudah.

Setelah itu, Y.A. Bhikkhu Ajita menggunakan jubah yang ia peroleh sebagai penutup tempat tidur di kamar tidur Sang Buddha yang berbau harum serta menyatakan cita-cita bahwa melalui perbuatannya ini ia akan mempunyai penutup tempat tidur yang terbuat dari tujuh permata dengan gantungan dari emas, perak, batu karang, dan mutiara seukuran dua belas league jika ia menjadi Buddha.

Buddha Gotama tersenyum mendengar cita-cita Y.A. Bhikkhu Ajita. Ketika Y.A. Bhikkhu Ananda bertanya mengapa Beliau tersenyum, Sang Buddha menjawab, “Ananda, Bhikkhu Ajita akan menjadi Buddha Metteya pada masa kappa sekarang.” Siswa utama Sang Buddha yang pertama, Y.A. Bhikkhu Sariputta, yang mengetahui bahwa para bhikkhu lainnya berharap mendengar lebih banyak informasi dari Sang Buddha, meminta Sang Buddha agar memberikan kotbah tentang Buddha yang akan datang. Sang Buddha pun mengkotbahkan Anagatavamsa (Riwayat Buddha Yang Akan Datang).

Sejak saat itu Y.A. Bhikkhu Ajita membimbing sejumlah besar bhikkhu, menjelaskan seluruh bagian kitab suci kepada mereka, serta menyebabkan mereka menjadi Arahat. Setelah wafat-Nya, Y.A. Bhikkhu Ajita terlahir kembali di alam dewa.

Saat ini Bodhisatta Metteya dapat terlahir di alam kehidupan mana pun. Namun demikian, seorang Bodhisatta selama masa perjuanngannya akan terbebas dari delapan belas macam kelahiran yang buruk, yaitu ia tidak akan pernah lahir buta, tuli, gila, berair liur yang menetes-netes, lumpuh, lahir sebagai orang biadab, dikandung oleh budak atau orang bida’ah. Ia tidak akan pernah berubah kelaminnya, tidak pernah melakukan lima perbuatan durhaka (membunuh ibu kandung, membunuh ayah kandung, membunuh seorang Arahat, melukai seorang Buddha, dan memecah belah Sangha), dan tidak pernah menderita penyakit kusta. Bila terlahir kembali sebagai binatang, ia tidak pernah lahir sebagai binatang yang lebih kecil dari burung puyuh atau lebih besar dari gajah. Ia tidak pernah dilahirkan sebagai peta (setan) atau di alam neraka Avici. Ia tidak pernah lahir sebagai Mara (dewa hawa nafsu), lahir di alam asannasata (tanpa kesadaran), di alam suddhavasa (kediaman murni), di alam arupa (tanpa wujud), ataupun di cakkavala (tata surya) lain.

Menjelang kelahiran terakhirnya, Bodhisatta akan terlahir sebagai manusia yang melaksanakan tujuh mahadana sehingga terjadi gempa bumi hebat di dunia sebanyak tujuh kali. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Bodhisatta Vessantara (yang merupakan kelahiran lampau dari Buddha Gotama). Setelah kehidupan tersebut, Bodhisatta terlahir di alam dewa Tusita di mana semua Maha Bodhisatta berdiam sebelum kelahiran terakhir-Nya sebagai manusia yang akan mencapai Penerangan Sempurna.

Sebuah kitab berbahasa Pali menggambarkan keadaan Bodhisatta Metteya di surga Tusita. Bodhisatta Metteya terlahir sebagai dewa dengan nama Nathadeva. Beliau dikatakan pergi dari surga Tusita menuju tempat pemujaan Culamani di surga Tavatimsa untuk memberi penghormatan kepada potongan rambut Bodhisatta Siddhattha (Siddhartha) yang dipotong saat Ia meninggalkan keduniawian dan relik (sisa-sisa tubuh yang tidak habis terbakar) Buddha Gotama yang dibawa ke sana oleh raja dewa Sakka setelah Sang Buddha wafat. Nathadeva dikelilingi oleh perkumpulan dewa-dewi. Empat dewi di antaranya digambarkan berwajah cantik, memiliki lingkaran cahaya, hiasan, dan pakaian yang indah serta memancarkan cahaya berwana dari tubuhnya.

C. Kemerosotan Moral Manusia
Menurut Cakkavatti Sihanada Sutta, sebelum kemunculan Buddha Metteya, akan ada suatu kejadian yang mendahuluinya, yaitu kemerosotan moral manusia yang menyebabkan penurunan usia rata-rata kehidupan manusia. Cakkavatti Sihanada Sutta (Kotbah Auman Singa Raja Dunia) dikotbahkan oleh Buddha Gotama ketika Beliau berdiam di Matula dalam kerajaan Magadha kepada sekelompok bhikkhu.
Sang Buddha pertama-tama menggambarkan kondisi ideal yang pernah muncul di dunia pada zaman dahulu ketika tujuh orang raja dunia memerintah. Mereka menjalankan pemerintahan sesuai dengan Dhamma. Akhirnya, ada seorang raja (raja kedelapan) yang melalaikan kewajiban untuk berdana kepada orang miskin. Akibatnya, pencurian muncul di dunia. Perlahan-lahan orang mulai semakin jahat dan mengenal pembunuhan. Karena pencurian dan pembunuhan ini, usia rata-rata manusia berkurang dari delapan puluh ribu tahun menjadi empat puluh ribu tahun.

Lalu orang mulai berkata bohong sehingga usia manusia berkurang menjadi dua puluh ribu tahun. Selanjutnya, perkataan jahat menjadi biasa dan usia manusia berkurang menjadi sepuluh ribu tahun. Dengan terbiasanya manusia melakukan hubungan seksual yang salah, umur manusia berkurang menjadi lima ribu tahun. Ketika perkataan kasar dan omong kosong menjadi hal yang biasa, umur manusia tinggal dua ribu lima ratus tahun dan dua ribu tahun saja.

Munculnya iri hati dan dendam menyebabkan umur manusia berkurang hingga seratus tahun. Ketika manusia mulai berpandangan salah, usianya menjadi lima ratus tahun. Kemudian hubungan seksual dengan orang yang sedarah, keserakahan, dan hubungan seksual sesama jenis merajalela sehingga usia manusia tinggal dua ratus lima puluh tahun dan dua ratus tahun. Ketika manusia melalaikan kewajiban terhadap orang tua, pemuka agama, dan pemimpin masyarakat, umur manusia tinggallah seratus tahun. Ini merupakan usia rata-rata kehidupan manusia pada zaman Buddha Gotama. Ketika usia manusia lebih pendek dari seratus tahun, tidak akan ada Buddha muncul di dunia.

Sang Buddha menjelaskan bahwa kejahatan manusia akan terus berlanjut dan usia manusia akan terus berkurang hingga hanya tinggal sepuluh tahun saja. Saat itu wanita akan menikah pada usia lima tahun. Sepuluh perbuatan baik akan hilang dan sepuluh perbuatan jahat akan berkembang dengan cepat. Pada saat itu orang yang tidak menghormati orang tua, pemuka agama, dan pemimpin masyarakat akan dihargai dan dihormati. Hubungan seksual dengan siapa saja tanpa memandang pertalian darah dan hubungan seksual dengan binatang akan menjadi hal yang biasa. Manusia tak ada bedanya dengan binatang. Orang akan membunuh anggota keluarga sendiri.

Kemudian, akan terjadi tujuh hari pembantaian besar-besaran sesama manusia. Namun sebagian orang akan bersembunyi selama tujuh hari dan setelah itu mereka akan berusaha untuk berhenti membunuh. Akibatnya, usia kehidupan manusia meningkat menjadi dua puluh tahun. Melihat hal ini, manusia akan mulai menjaga perilakunya sehingga perlahan-lahan umur manusia akan bertambah lagi.

D. Lenyapnya Ajaran Buddha Gotama
Berdasarkan Milinda Panha, tidak ada Samma Sambuddha yang akan muncul selama ajaran (sasana) Samma Sambuddha sebelumnya belum lenyap. Munculnya Samma Sambuddha berikutnya hanya terjadi setelah relik (dhatu) Samma Sambuddha sebelumnya lenyap tanpa sisa. Jika ajaran Buddha yang lampau masih ada lalu muncul Buddha yang baru, para pengikut ajaran Buddha yang lalu dan para pengikut Buddha yang baru akan bertengkar membandingkan kualitas masing-masing Buddha dan kebenaran ajaran-Nya masing-masing. Dengan demikian, Buddha Metteya akan muncul jika ajaran Buddha Gotama telah lenyap.
Selama masa Buddha Gotama sampai usia kehidupan manusia minimum, ajaran Sang Buddha (Buddha Sasana) akan lenyap. Ketika Sang Buddha menyetujui untuk membentuk Bhikkhuni Sangha, Beliau berkata kepada Y.A. Bhikkhu Ananda, “Jika, Ananda, para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan keduniawian dan memasuki keadaan tanpa rumah di bawah Dhamma dan Vinaya yang dinyatakan oleh Tathagata, kehidupan suci akan berlangsung lama dan Dhamma yang luhur akan bertahan selama ribuan tahun. Namun, karena para wanita telah memasuki keadaan tanpa rumah ini, kehidupan suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma yang luhur sekarang akan bertahan hanya selama lima ratus tahun.”

Dhammasangani Atthakatha menyebutkan bahwa ketika Konsili Buddhis Pertama diadakan oleh Y.A. Bhikkhu Maha Kassapa untuk mengulang Dhamma dan Vinaya tak lama setelah Sang Buddha wafat (parinibbana), Dhamma dapat bertahan sampai lima ribu tahun.
Vinaya Pitaka Atthakatha dan Anguttara Nikaya Atthakatha mengatakan bahwa delapan aturan utama yang diberikan Buddha Gotama kepada Bhikkhuni Sangha akan membuat ajaran-Nya bertahan untuk lima ribu tahun. Akan ada seribu tahun untuk para Arahat yang memiliki Pengetahuan Analitik (Patisambhida), seribu tahun untuk para Arahat tanpa Pengetahuan Analitik, seribu tahun untuk para Anagami (tingkat kesucian yang berada satu tingkat di bawah Arahat), seribu tahun untuk para Sakadagami (tingkat kesucian yang berada satu tingkat di bawah Anagami), dan seribu tahun untuk para Sotapanna (tingkat kesucian yang berada satu tingkat di bawah Sakadagami dan merupakan tingkat kesucian terendah). Setelah lima ribu tahun penembusan (pativedha) Dhamma ini, pengertian (pariyatti) akan Dhamma akan bertahan. Setelah pengertian akan Dhamma lenyap, lenyaplah Dhamma dari dunia. Inilah yang disebut zaman kekosongan Dhamma.

Lenyapnya Dhamma, ajaran Sang Buddha, ditandai dengan lenyapnya kitab suci Tipitaka. Pitaka yang pertama akan lenyap adalah Abhidhamma Pitaka yang dimulai dari kitab Patthana dan berakhir pada kitab Dhammasangani. Kemudian Sutta Pitaka yang dimulai dari Anguttara Nikaya (dari Nipata sebelas sampai Nipata satu), Samyutta Nikaya (dari Cakkapeyyala sampai Oghatarana), Majjhima Nikaya (dari Indriyabhavana Sutta sampai Mulapariyaya Sutta), Digha Nikaya (dari Dasuttara Sutta sampai Brahmajala Sutta). Akhirnya, Vinaya Pitaka akan lenyap yang berakhir pada Ubhsattovibhanga matika.

Kitab Atthakatha lain menyebutkan adanya lima tahap lenyapnya ajaran Buddha Gotama, yaitu:
1. Lenyapnya pencapaian Dhamma.
2. Lenyapnya pelaksanaan Dhamma.
3. Lenyapnya pengertian akan Dhamma.
4. Lenyapnya Dhamma (setelah tahap ini terjadi, lima ribu tahun telah berlalu). Selama masa ini satu-satunya perbuatan baik yang tertinggal ialah memberi dana pada orang yang berjubah kuning.
5. Lenyapnya relik Sang Buddha.
Menurut Maha Parinibbana Sutta, setelah wafatnya Sang Buddha, relik-relik tubuh Beliau dibagi menjadi delapan bagian yang tersebar di seluruh Jambudipa (India). Pada abad ke-3 SM Raja Asoka mengirimkan para dhammaduta (pembabar agama Buddha) ke seluruh penjuru dunia dan para dhammaduta ini membawa relik Sang Buddha. Ketika Candi Borobudur dibangun, diyakini bahwa di dalam candi ditempatkan relik rambut Sang Buddha. Demikian pula pada beberapa candi atau pagoda di negara-negara Buddhis seperti Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan lain sebagainya disebutkan memiliki relik Sang Buddha.

Pada zaman kekosongan Dhamma, manusia akan melupakan ajaran Buddha Gotama sehingga tidak ada lagi yang memberi penghormatan pada relik-relik Sang Buddha. Ketika relik-relik Sang Buddha tidak dihormati lagi, mereka akan berkumpul di tempat duduk di mana Buddha Gotama mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi. Di sini relik-relik ini akan membentuk kembali tubuh fisik Sang Buddha dan mempertunjukkan keajaiban yang sama seperti Keajaiban Ganda (keajaiban yang hanya dapat dilakukan oleh seorang Buddha di mana Beliau menciptakan api dan air keluar dari pori-pori tubuh-Nya secara serempak). Tubuh fisik Sang Buddha akan mengajarkan Dhamma, tetapi tak ada seorang pun manusia yang hadir. Hanya para dewa dari sepuluh ribu cakkavala yang akan mendengarkan Dhamma dan banyak dari mereka yang akan mencapai Pembebasan. Setelah itu, tubuh fisik Sang Buddha akan terbakar tanpa sisa. Dengan kejadian ini, lenyaplah agama Buddha dari dunia ini.

E. Kedatangan Buddha Metteya
Menurut Cakkavatti Sihanada Sutta, ketika moralitas manusia semakin baik, usia rata-rata kehidupan manusia akan bertambah hingga mencapai delapan puluh ribu tahun. Saat itulah Buddha Metteya akan datang ke dunia. Tidak ada angka tahun yang pasti untuk rentangan masa antara Buddha Gotama dan Buddha Metteya. Anagatavamsa mengatakan bahwa Buddha Metteya akan muncul sepuluh juta tahun setelah Buddha Gotama, tetapi Anagatavamsa Atthakatha menyatakan ini berarti ratusan ribu kali sepuluh juta tahun.

Buddha Metteya adalah Buddha kelima atau terakhir pada kappa yang luhur (bhadda kappa) ini. Disebut kappa yang luhur karena pada kappa sekarang ini muncul jumlah maksimum lima Buddha. Beberapa kappa merupakan kappa kosong yang artinya tidak ada Buddha yang muncul pada kappa tersebut; pada kappa-kappa lainnya satu sampai empat Buddha muncul. Nama-nama Buddha yang muncul pada bhadda kappa ini adalah Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, Buddha Gotama, dan Buddha Metteya. Riwayat para Buddha sebelum Buddha Gotama dikisahkan dalam kitab Buddhavamsa (Riwayat Para Buddha).

Kappa yang luhur seperti saat ini sangat sulit untuk ditemui. Mereka yang terlahir di kappa ini biasanya diberkahi kebaikan dan kebahagiaan; mereka biasanya mempunyai tiga akar kebajikan (alobha/ketidakserakahan, adosa/tanpa kebencian, dan amoha/tanpa kebodohan batin) sehingga dapat membasmi kekotoran batin. Mereka yang memiliki dua akar kebajikan saja (alobha dan adosa) dapat terlahir di alam bahagia.

F. Kelahiran Bodhisatta Metteya
Sebelum kelahiran terakhirnya di alam manusia, setiap Bodhisatta berdiam di alam dewa Tusita, termasuk Bodhisatta Metteya. Masa kehidupan rata-rata di alam Tusita ialah lima ratus tujuh puluh enam juta tahun, tetapi Bodhisatta meninggalkan alam Tusita sebelum masa kehidupan-Nya selesai. Seribu tahun sebelum Bodhisatta terlahir sebagai manusia yang akan menjadi Buddha, para dewa atau brahma pergi ke alam manusia untuk mengumumkan bahwa seorang Buddha akan muncul di dunia.

Pada saat menjelang kehidupan-Nya di alam Tusita akan berakhir, para dewa dari berbagai alam dewa berkumpul di alam Tusita dan memohon kepada Bodhisatta untuk terlahir sebagai manusia agar Ia dapat menjadi Samma Sambuddha. Bodhisatta tidak akan segera menjawab karena Ia harus mengadakan lima pengamatan besar yang terdiri atas:

1. Pengamatan atas batas kehidupan manusia: para Samma Sambuddha tidak akan muncul jika batas usia rata-rata manusia lebih dari seratus ribu tahun atau kurang dari seratus tahun. Saat Bodhisatta Metteya akan turun ke dunia, batas usia manusia adalah delapan puluh ribu tahun.

2. Pengamatan atas tempat kelahiran: para Buddha hanya terlahir di Majjhimadesa Jambudipa (daerah India bagian tengah) karena manusia di sana mempunyai akar yang baik untuk menerima Dhamma dan melepaskan kemelekatan terhadap kehidupan duniawi.

3. Pengamatan atas keluarga: ada dua pilihan, yaitu keluarga dari kasta brahmana (golongan pendeta) atau kasta ksatria (golongan keluarga kerajaan). Karena pada saat menjelang kelahiran Bodhisatta Metteya, kasta brahmana lebih tinggi dan lebih terhormat kedudukannya, Bodhisatta memilih dilahirkan dalam keluarga brahmana.

4. Pengamatan atas ibu: wanita yang menjadi ibu Bodhisatta haruslah telah melaksanakan paramita selama seratus ribu kappa, belum pernah melahirkan, memiliki silsilah keluarga yang sempurna, sabar, tidak pernah marah, tidak suka bergosip seperti wanita lain pada umumnya, tidak iri hati, tidak cemburu, tidak angkuh, tidak suka memuaskan nafsu indera, tidak minum minuman keras, dan telah menjalankan sila dengan baik.

5. Pengamatan atas batas usia ibu: ibu Bodhisatta akan hidup hanya sepuluh bulan dan tujuh hari sejak ia hamil.
Setelah Bodhisatta mengetahui kelima hal di atas terpenuhi, Ia akan menyatakan kepergian-Nya kepada para dewa dan segera menghilang (meninggal) dari alam Tusita.
Bodhisatta turun ke dalam rahim ibunya dengan penuh kesadaran. Ia sadar inilah kelahiran-Nya yang terakhir. Pada saat itu bumi bergetar dan sepuluh cakkavala diliputi cahaya gemerlapan. Para dewa dari alam Catumaharajika (empat raja dewa) selalu melindungi sang ibu dan anaknya. Selama kehamilannya, sang ibu tidak melanggar Pancasila, tidak tertarik oleh pria mana pun, dan dapat melihat sang Bodhisatta dalam posisi duduk bersilang kaki menghadap ke depan di dalam kandungannya.

Tepat pada akhir bulan kesepuluh kehamilannya, ibu Bodhisatta melahirkan dalam posisi berdiri di sebuah taman, tidak pernah di dalam bangunan. Berdasarkan Dasavatthuppakarana, Bodhisatta Metteya akan dilahirkan di sebuah taman rusa di Isipatana. Ia diterima lebih dahulu oleh para brahma dari alam suddhavasa yang bebas dari nafsu lalu oleh para dewa Catumaharajika yang menyerahkan sang bayi kepada ibu-Nya. Walaupun Bodhisatta lahir tanpa noda darah, namun dua macam hujan (panas dan dingin) jatuh dari angkasa memandikan sang ibu dan anaknya.

Bodhisatta berjalan tujuh langkah ke utara, memandang ke empat penjuru arah mata angin, dan menyatakan auman singa bahwa Dia-lah yang tertinggi di dunia. Ketika Bodhisatta lahir, cahaya gemerlapan akan terlihat meliputi alam semesta. Tujuh hari setelah kelahiran Bodhisatta, ibu-Nya meninggal dunia dan terlahir kembali di surga Tusita.

Ketika Bodhisatta Metteya lahir ke dunia, kehidupan di dunia bagaikan kehidupan di alam dewa. Wanita akan menikah pada usia lima ratus tahun. Hanya ada tiga macam penyakit yang menyerang manusia, yaitu keinginan, lupa makan, dan usia tua. India akan beribukota di Ketumati (sekarang Baranasi). Di India akan ada 84.000 kota dengan 90.000 pangeran. India akan terbentang selebar 100.000 league. Tidak ada semak beracun, hanya ada rerumputan hijau. Keadaan iklim akan selalu bagus. Hujan akan turun secara merata dan angin bertiup tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Sungai-sungai dan kolam-kolam tidak akan kekurangan air. Akan ada pasir putih yang tidak kasar dan seukuran biji kacang polong atau buncis. Negara India akan seperti taman yang cantik. Desa-desa dan kota-kota akan saling berdekatan, penuh dengan penduduk, dan tanpa jarak sehingga ayam jantan dapat terbang dari satu kota ke kota lain.

Orang-orang akan hidup aman, tenteram, dan bebas dari bahaya. Mereka akan gembira dan bahagia menikmati perayaan-perayaan. Mereka akan memiliki banyak makanan dan minuman untuk dimakan dan diminum. Melalui perbuatan jasa orang-orang pada masa itu, akan ada padi yang tumbuh tanpa perlu diolah. Padi itu murni, manis rasanya, dan siap dikupas. Penduduk Ketumati akan mendapatkan apa pun yang mereka inginkan. Mereka akan sangat raya. Mereka akan dibangunkan (pada pagi hari) oleh suara genderang dan seruling. Mereka akan sangat bahagia dalam tubuh dan pikiran.

India akan menjadi negara yang makmur. Ibukota India, Ketumati, akan memiliki kolam-kolam teratai yang cantik, penuh dengan air, harum semerbak, jernih, bersih, dingin, dan manis. Kolam-kolam itu akan dikunjungi orang setiap waktu. Akan ada tujuh baris pohon palem dan tujuh baris tembok dari tujuh warna dan tujuh macam permata yang mengelilingi kota tersebut.

G. Raja Dunia Sankha
Pada masa Buddha Metteya, muncullah seorang raja dunia bernama Sankha [bedakan dengan raja dunia Sankha yang merupakan Bodhisatta Metteya pada kehidupan lampau]. Pada kehidupan lampaunya, dia dan ayahnya telah membuat sebuah pondok untuk seorang Pacceka Buddha. Mereka meminta sang Pacceka Buddha berdiam di pondok itu selama tiga bulan masa vassa (masa pengasingan diri selama musim hujan) dan memberi-Nya tiga buah jubah. Dengan cara yang sama, mereka meminta tujuh orang Pacceka Buddha untuk berdiam di pondok tersebut. Karena perbuatan ini, sang ayah dan anak terlahir di alam Tusita dan dewa Sakka meminta sang ayah untuk terlahir kembali di alam manusia sebagai Pangeran Maha Panada. Arsitek para dewa, Vissakamma, membangun sebuah istana untuk Maha Panada. Pada masa Buddha Gotama, Maha Panada terlahir sebagai Bhaddaji Thera yang pada suatu ketika mengangkat istana Maha Panada dari dasar sungai Gangga. Istana ini sekarang sedang menunggu kemunculan Sankha yang merupakan sang anak yang memberi dana kepada para Pacceka Buddha di masa lampau.

Ketika menjadi raja dunia, Sankha akan menggunakan istana Maha Panada yang terletak di tengah kota Ketumati sebagai istananya. Istana tersebut digambarkan berkilauan dengan banyak permata, sangat terang sehingga sulit untuk dilihat. Raja Sankha memiliki tujuh harta mulia seorang raja dunia, yaitu sebuah roda agung, gajah, kuda, permata, istri, kepala rumah tangga, dan penasehat.

Istana raja Sankha memiliki 84.000 orang gadis penari. Raja memiliki seribu orang anak yang berani, gagah perkasa, dan dapat menundukkan pasukan musuh. Anak yang tertua akan menjadi penasehat sang raja. Raja akan menaklukkan dunia sampai ke batas lautan tanpa kekerasan, tanpa pedang, melainkan dengan kebenaran.

H. Buddha Metteya
Bodhisatta Metteya akan menjadi anak kepala pendeta raja Sankha bernama Subrahma dari keluarga Metteya dan istrinya, Brahmavati. Sang Bodhisatta akan bernama Ajita yang sejak lahir membawa tiga puluh dua tanda seorang manusia agung (mahapurissa lakkhana), yaitu:

1. Telapak kaki rata.
2. Pada telapak kaki-Nya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
3. Tumit yang bagus.
4. Jari-jari yang panjang.
5. Tangan dan kaki yang lembut dan halus.
6. Tangan dan kaki bagaikan jala.
7. Pergelangan kaki yang agak tinggi.
8. Kaki bagaikan kaki kijang.
9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
10. Kemaluan terbungkus selaput.
11. Kulit-Nya bagaikan perunggu berwarna emas.
12. Kulit-Nya sangat lembut dan halus sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit.
13. Setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
15. Potongan tubuh yang agung.
16. Terdapat tujuh tonjolan tubuh, yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
17. Dada bagaikan dada singa.
18. Pada kedua bahu-Nya tidak ada lekukan.
19. Tinggi badan sama dengan rentangan kedua tangan.
20. Dada yang sama lebarnya.
21. Indera perasa yang sangat peka.
22. Rahang bagaikan rahang singa.
23. Memiliki empat puluh buah gigi.
24. Gigi-Nya rata.
25. Antara gigi-gigi tidak ada celah.
26. Gigi putih bersih.
27. Lidah yang panjang.
28. Suara bagaikan suara brahma seperti suara burung karavika.
29. Bermata biru.
30. Bulu mata lentik bagaikan bulu mata sapi.
31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
32. Kepala bagaikan berserban.
Orang yang memiliki ketigapuluh dua tanda ini jika hidup sebagai manusia biasa, ia akan menjadi raja dunia, atau apabila ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi pertapa, ia akan menjadi seorang Samma Sambuddha.

Ajita akan hidup sebagai perumah tangga selama delapan ribu tahun. Ia akan memiliki empat buah istana yang bernama Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha, dan Candaka. Ia akan memiliki 100.000 orang gadis penari. Istrinya bernama Candamukhi dan anaknya bernama Brahmavaddhana.

Para Bodhisatta meninggalkan kehidupan duniawi setelah mereka melihat empat pemandangan (orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa) dan setelah anak mereka lahir. Demikian pula dengan Ajita yang akan meninggalkan kehidupan duniawi di salah satu istananya. Ia akan mengenakan jubah kuning dan berjuang untuk mencapai Penerangan Sempurna.

Saat Ajita meninggalkan keduniawian, para dewa dari sepuluh ribu cakkavala akan memberi-Nya bunga sebagai penghormatan. Delapan puluh empat ribu raja, orang-orang dari berbagai kota dan desa akan menghormatinya dengan parfum dan bunga. Raja para asura (raksasa) akan menjaga istana-Nya. Raja para naga akan memberi-Nya mustika yang berharga, raja para suppana akan memberi-Nya kalung permata, raja para gandhabba akan menghormati-Nya dengan penari-penari dan peralatan musik. Raja Sankha bersama dengan istri dan para pengikutnya akan datang kepada sang Bodhisatta. Berkat kekuatan raja Sankha dan Bodhisatta, semua keramaian orang ini akan mengikuti sang Bodhisatta untuk meninggalkan keduniawian. Ditemani oleh para pengikut-Nya ini, Ajita akan terbang ke udara dan pergi ke pohon Naga yang akan menjadi pohon Bodhi bagi-Nya.

Kemudian Maha Brahma memegang payung seukuran 60 league untuk melindungi Ajita dan para pengikut-Nya. Raja dewa Sakka meniupkan kulit kerang Vijayuttara. Raja dewa Yama, Suyama, memberikan Ajita kipas bulu sapi untuk menghormati-Nya. Raja dewa Tusita, Santusita, memegang kipas permata. Dewa gandhabba, Pancasikha, memainkan kecapi surgawinya, Velupanda. Empat raja dewa dengan pedang di tangan melindungi mereka di empat penjuru arah. Semua makhluk ini yang mengelilingi sang Bodhisatta di depan, di belakang, dan kedua sisi akan pergi dengan-Nya.

Ketika Bodhisatta turun di dekat tempat duduk di mana Ia akan mencapai Penerangan Sempurna, Maha Brahma akan memberinya delapan kebutuhan seorang bhikkhu yang dibuat dengan kekuatan batinnya. Lalu Ajita mencukur rambut-Nya dan membuang potongan rambut tersebut ke udara. Ia akan mengambil delapan kebutuhan seorang bhikkhu dari tangan Maha Brahma.

Anagatavamsa menggambarkan orang-orang yang ikut meninggalkan keduniawian bersama dengan Bodhisatta Metteya. Mereka adalah teman-teman, para menteri, dan anggota keluarga sang Bodhisatta. Akan ada perkumpulan prajurit kerajaan dan perkumpulan orang dari empat kasta di India. Akan ada 84.000 orang pangeran dan 84.000 orang brahmana yang ahli dalam kitab Veda. Di antara 84.000 orang ini, akan ada kakak beradik Isidatta dan Purana, dua orang kembar yang kebijaksanaannya tak terbatas Jatimitta dan Vijaya, kepala rumah tangga Suddhika dan pengikut wanita Suddhana, pengikut pria Sankha dan pengikut wanita Sankha, kepala rumah tangga Saddara dan orang terkenal Sudatta, serta suami istri Visakha dan Yasavati. Orang-orang dari berbagai kota dan desa, dari berbagai status sosial akan mengikuti sang Bodhisatta.
Tempat di mana para Bodhisatta mencapai Penerangan Sempurna adalah sama, yaitu di Bodh Gaya sekarang. Jadi, Ajita akan mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha di Bodh Gaya. Pada hari itu Bodhisatta makan nasi susu sebelum menjadi Buddha. Ia duduk di atas bentangan rumput. Ia akan melatih meditasi pernapasan untuk mencapai Penerangan Sempurna dan menghancurkan kekuatan Mara. Ia akan menghabiskan tujuh minggu di dekat pohon Bodhi setelah mencapai Kebuddhaan. Sejak hari itu Buddha Metteya akan dikenal sebagai Raja Para Buddha (Buddharaja).

Maha Brahma akan memohon kepada Buddha Metteya untuk mengajarkan Dhamma. Beliau pun memberikan kotbah pertama-Nya, Dhammacakkapavattana (Pemutaran Roda Dhamma), di Nagavana (Taman Gajah) di Isipatana dekat kota Ketumati. Kotbah itu berisi ajaran tentang penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan (dikenal sebagai Empat Kesunyataan Mulia).

Buddha Metteya akan dikelilingi oleh perkumpulan makhluk yang terbentang sepanjang seratus league. Para dewa akan mendekati Beliau dan Beliau akan membebaskan mereka dari kekotoran batin. Inilah kejadian pertama ketika sejumlah besar makhluk mencapai penembusan Dhamma (Abhisamaya) ke dalam Empat Kesunyataan Mulia. Kemudian raja Sankha akan memdanakan istana permatanya kepada Sangha dan memberikan sejumlah besar dana kepada kaum miskin dan pengemis. Ditemani oleh istri dan 90.000 orang lainnya, raja akan mendekati Buddha Metteya. Ke-90.000 orang ini akan ditahbiskan dengan ucapan “Datanglah, bhikkhu” (Ehi bhikkhu) oleh Sang Buddha. Inilah penembusan Dhamma yang kedua. Setelah itu, penembusan Dhamma dari 80.000 makhluk akan terjadi ketika para dewa dan manusia menanyakan sebuah pertanyaan tentang Kearahatan kepada Buddha Metteya.

Akan ada tiga pertemuan (sannipata) para Arahat. Pertemuan yang pertama akan dihadiri oleh 100.000 orang Arahat. Saat itu Sang Buddha akan membacakan Patimokkha pada bulan purnama Magha kepada perkumpulan Arahat yang diberkahi oleh empat faktor, yaitu:

1. Semua bhikkhu yang hadir telah ditahbiskan dengan ucapan Ehi bhikkhu.
2. Semua bhikkhu yang hadir memiliki enam jenis Pengetahuan yang Lebih Tinggi (Abhinna).
3. Semua bhikkhu tersebut datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
4. Diadakan pada hari Uposatha (hari di mana para umat Buddha menjalankan sila dan berpuasa) pada hari kelima belas.
Pertemuan para Arahat yang kedua terjadi ketika Sang Buddha mengumumkan undangan pada akhir musim hujan dan dihadiri oleh 90.000 orang Arahat. Pada pertemuan ketiga, 80.000 orang Arahat akan menemani Sang Buddha ketika Beliau pergi mengasingkan diri di lereng Gandhamadana di pegunungan Himalaya. Selain itu, Sang Buddha Metteya akan selalu dikelilingi oleh 100.000 orang bhikkhu yang telah mencapai enam jenis Pengetahuan yang Lebih Tinggi.

Buddha Metteya akan berkelana ke berbagai pelosok untuk mengajarkan Dhamma dan membuat banyak orang mencapai Pembebasan. Beberapa orang akan mengambil Tiga Perlindungan (berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha), beberapa akan melatih Pancasila, beberapa lainnya akan melatih Dasasila. Akan ada beberapa orang yang ditahbiskan sebagai bhikkhu, mereka akan mencapai empat tingkat kesucian (Sotapanna, Sakadagami, Anagami, dan Arahat). Ajaran Buddha Metteya akan tersebar luas. Melihat orang yang siap untuk mencapai Penerangan Sempurna, Beliau akan pergi sejauh 100.000 league dalam sekejab untuk menolongnya mencapai Bodhi. Sang Buddha juga akan memadamkan api neraka bagi mereka yang terlahir di alam neraka.

Buddha Metteya memiliki siswa utama yang pertama bernama Asoka yang tak lain adalah nama bhikkhu dari raja Sankha dan yang kedua bernama Brahmadeva. Pembantu tetap Buddha Metteya bernama Siha. Siswi utama-Nya adalah Paduma dan Sumana. Pemimpin para upasaka Beliau ialah Sumano dan Sangha serta pemimpin para upasika ialah Yasavati dan Sangha.

Banyak keajaiban akan terjadi melalui kekuatan jasa Buddha Metteya. Melihat keajaiban-keajaiban ini, banyak orang memutuskan bahwa mereka lebih baik mati daripada meninggalkan ajaran Beliau. Banyak di antara mereka yang mencapai Pembebasan.
Buddha Metteya akan tinggal di vihara Jetavana, tempat di mana semua Buddha tinggal. Tempat tidur-Nya pun akan berada di lokasi yang sama dengan tempat tidur para Buddha masa lampau. Beliau akan mempertunjukkan Keajaiban Ganda di pintu gerbang kota Savatthi, tempat di mana semua Buddha melakukan hal yang sama. Beliau akan mengajarkan Abhidhamma (Ajaran yang Lebih Tinggi) kepada ibu-Nya dan para dewa lainnya di alam Tavatimsa. Ia akan turun dari alam dewa tersebut di pintu gerbang kota Sankassa. Ia akan menetapkan aturan bagi para bhikkhu jika diperlukan. Ia akan menceritakan kehidupan lampau-Nya (Jataka) jika diperlukan dan mengajarkan Buddhavamsa (Riwayat Para Buddha) kepada perkumpulan sanak keluarga-Nya.
Beliau akan menyambut dengan ramah para bhikkhu ketika mereka datang. Beliau akan menghabiskan masa vassa di mana Beliau diundang dan tidak akan pergi tanpa permisi. Setiap hari Beliau akan menjalankan kewajiban-Nya sebelum dan sesudah makan serta selama tiga waktu jaga di malam hari.

Anagatavamsa juga memberikan gambaran penampakan fisik Buddha Metteya. Tinggi badan Beliau ialah delapan puluh delapan hasta dan dada-Nya berukuran dua puluh lima hasta. Ada dua puluh dua hasta dari bagian bawah kaki-Nya ke lutut, dari lutut ke pusar, dari pusar ke tulang selangka dan dari tulang selangka ke puncak kepala. Tulang selangka Beliau seukuran lima hasta. Setiap jari berukuran empat hasta. Setiap telapak tangan berukuran lima hasta. Keliling leher-Nya sebesar lima hasta. Setiap bibir seukuran lima hasta. Panjang lidah Beliau adalah sepuluh hasta. Hidung Beliau setinggi tujuh hasta. Setiap rongga mata seukuran tujuh hasta. Mata-Nya sendiri berukuran lima hasta. Bulu mata-Nya tebal dengan mata yang lebar dan jernih, tidak berkedip siang dan malam. Dengan mata fisik-Nya Beliau dapat melihat benda-benda kecil maupun besar di seluruh penjuru sejauh sepuluh league tanpa halangan. Jarak antar alis mata ialah lima hasta. Panjang alis mata-Nya lima hasta. Setiap telinga berukuran tujuh hasta. Keliling wajah Beliau ialah dua puluh lima hasta. Lingkaran dari tonjolan pada kepala seukuran dua puluh lima hasta.

Sinar enam warna akan memancar dari tubuh Buddha Metteya dan menyinari sepuluh ribu cakkavala. Tanda-tanda manusia agung akan selalu kelihatan karena ratusan ribu cahaya tak terhitung yang bersinar ke seluruh penjuru arah sepanjang tiga puluh lima league. Melalui perbuatan jasa-Nya ketika darah mengalir saat Beliau mempersembahkan kepala-Nya kepada Buddha Sirimata, sinar tubuh Buddha Metteya akan bersinar dari puncak dunia sampai ke neraka yang paling rendah, Avici.

Ke mana pun Buddha Metteya berjalan, teratai akan tumbuh di mana Ia akan menginjakkan kaki-Nya. Ini merupakan hasil usaha keras-Nya pada kehidupan lampau sebagai raja Sankha yang datang kepada Buddha Sirimata.
Namun demikian, bagaimana pun seorang Buddha tunduk pada hukum ketidakkekalan. Buddha Metteya akan mencapai Parinibbana (meninggal dunia) pada usia 80.000 tahun. Sebelum Parinibbana, Buddha Metteya telah menyelesaikan 2.400.000 pencapaian Dhamma. Ketika wafat, Buddha Metteya tidak meninggalkan satu relik pun. Ajaran Beliau akan bertahan selama 180.000 tahun. Setelah itu, akan ada kekosongan Dhamma yang mengerikan di dunia.

I. Penutup
Kehadiran seorang Buddha di dunia sangatlah sulit untuk ditemui. Sangat penting bagi kita yang belum mencapai tingkat kesucian apa pun saat ini untuk berjumpa dengan Buddha Metteya karena Beliau merupakan Buddha terakhir pada kappa sekarang. Buddha Gotama pernah berkata kepada Y.A. Bhikkhu Sariputta, “Tidak semua orang akan melihat tubuh fisik-Ku. Jika mereka bertemu dengan ajaran-Ku, memberikan dana, mematuhi sila, dan melatih meditasi (bhavana). Melalui buah dari perbuatan-perbuatan ini, mereka akan terlahir pada masa Buddha Metteya.”

Ketiga perbuatan yang disebutkan di atas merupakan dasar dari perbuatan berjasa (punna). Melalui dana dan sila, seseorang dapat dipastikan akan terlahir di alam bahagia, tidak akan jatuh ke alam derita. Meditasi dapat membawa kita pada tingkatan Jhana dan juga membawa pada Pembebasan Sejati (Vipassana).
Berdasarkan Anagatavamsa, untuk dapat berjumpa dengan Buddha Metteya, seseorang harus membangun semangat yang kokoh dan kuat serta menggerakkan pikirannya untuk terus melatih diri dalam Dhamma. Kehidupan suci (brahmacariya) harus dijalankan, dana harus selalu diberikan, hari Uposatha harus dijaga, dan cinta kasih harus dikembangkan. Dengan perbuatan-perbuatan ini, mereka yang waspada akan dapat berjumpa dengan Buddha yang akan datang dan mempunyai kemungkinan untuk mencapai akhir dari penderitaan.

Namo Ariya Metteya Bodhisattaya Mahasattaya
Terpujilah Yang Mulia Metteya Makhluk Agung yang Akan Mencapai Penerangan Sempurna

Sumber: The Coming Buddha, Ariya Metteyya
oleh Sayagyi U Chit Tin