Bangkok, Thailand — Menentukan sikap Guru Buddha terhadap kaum wanita, secara langsung berhubungan dengan sifat teralami dari Buddhisme itu sendiri dan berhubungan dengan apakah Buddhisme mendukung pergerakan hak azasi manusia untuk demokrasi dan persamaan atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ini, seseorang akan selalu dapat berargumen bahwa tidak mungkin untuk memeriksa kebenaran atas jawabannya, karena Guru Buddha telah lama Parinirvana. Namun, bagian-bagian yang terdapat dalam Tripitaka, yang merupakan kumpulan terbesar dari suatu ajaran agama di dunia, menyajikan referensi yang baik dalam pertanyaan kita.

Dalam rangka menemukan apakah Sang Buddha melakukan diskriminasi terhadap kaum wanita atau tidak, Tripitaka adalah satu-satunya sumber historis yang tepat sebagai acuan. Meskipun demikian, caranya tidaklah sederhana.

Penafsiran teks-teks Buddhis sebagian besar tergantung pada cara penggunaannya dalam pembacaan, yaitu, mengambil kata-kata secara harafiah seperti yang dilakukan oleh banyak Buddhis tradisional, atau menggunakan suatu pendekatan yang lebih holistik di dalam memahaminya, seperti yang dilakukan oleh banyak sarjana modern.

Terakhir juga memerlukan analisis kritis dan seni dalam memahami hal yang tersirat. Seperti kebanyakan teks keagamaan yang diwariskan dari jaman dahulu, Tripitaka memberikan informasi yang bertentangan mengenai status kaum wanita.
Salah satu referensi kunci yang betul-betul mendiskriminasikan kaum wanita adalah legenda asal muasal para bhikkhuni, di mana Sang Buddha menunjukkan penolakan yang sangat terhadap penahbisan (umpasampada) kaum wanita seperti yang diminta oleh Prajapati Gautami, ibu tiri sekaligus bibiNya. Ananda, pelayan dekat Sang Buddha ikut serta dan merundingkannya atas nama Prajapati Gautami. Sebagai hasilnya, Sang Buddha meletakkan satu set peraturan khusus, atau yang disebut Delapan Kewajiban Berat (Garudhamma) yang ditetapkan sebagai kondisi-kondisi untuk penahbisan kaum wanita, dan para bhikkhuni diwajibkan untuk menaatinya sampai akhir hidup mereka.

Delapan Kewajiban Berat yaitu:

Seorang bhikkhuni, walaupun sudah di-upasampada (ditahbiskan) selama 100 tahun, harus menghormati seorang bhikkhu, menyambutnya, bersujud dengan hormat, meskipun bhikkhu itu baru ditahbiskan hari itu. (Para bhikkhu memberikan hormat satu dengan yang lain berdasarkan kesenioran mereka, atau berdasarkan banyaknya tahun setelah mereka ditahbiskan.)

Seorang bhikkhuni tidak boleh menjalani masa pengasingan diri (vassa) di tempat di mana tidak ada bhikkhu. (seorang bhikkhu boleh menempati tempat seorang diri)

Seorang bhikkhuni menantikan dua kewajiban: setiap dua minggu seorang bhikkhuni harus meminta pertemuan Uposatha kepada Sangha Bhikkhuni dan menerima nasihat dari seorang bhikkhu setiap dua minggu. (Para bhikkhu tidak bergantung kepada para bhikkhuni untuk upacara wajib ini, dan juga tidak meminta untuk mendapatkan nasihat apapun.)

Seorang bhikkhuni yang telah menyelesaikan masa vassa-nya harus mengajukan dirinya untuk menerima nasihat dari kedua Sangha, Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni (Upacara Pavarana) untuk menanyakan apakah melalui 3 cara penglihatan, pendengaran, atau kecurigaan suatu kesalahan telah dilakukan. (Para bhikkhu mengajukan diri mereka sendiri ke komunitas para bhikkhu)

Seorang bhikkhuni yang dikenakan masa percobaan karena pelanggaran suatu peraturan kebhikkhunian, Sanghadisesa, harus menjalani masa percobaan minimum 15 hari, untuk pemulihan kembali menuntut persetujuan dari kedua Sangha, Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni. (Untuk para bhikkhu minimum lima hari masa percobaan dengan tidak memerlukan persetujuan dari para bhikkhuni untuk pemulihan kembali.)

Seorang wanita harus ditahbiskan oleh para bhikkhu dan bhikkhuni dan hanya dapat ditahbiskan setelah dua tahun masa pencalonan, dan pelatihan pada enam pelatihan. (Seorang pria tidak memiliki masa pencalonan wajib dan pentahbisan mereka dilakukan oleh para bhikkhu saja).

Seorang bhikkhuni tidak boleh memarahi seorang bhikkhu. (Seorang bhikkhu boleh memarahi bhikkhu lain, dan semua bhikkhu boleh memarahi bhikkhuni.)

Untuk selanjutnya, tak seorang bhikkhuni pun boleh sama sekali memberi pengajaran/teguran kepada para bhikkhu. Namun, para bhikkhu boleh memberikan pengajaran/teguran (Tidak ada batasan kepada siapa seorang bhikkhu boleh memberi pengajaran/teguran.)
Legenda tersebut mengingatkan kembali bahwa, setelah memberikan Delapan Kewajiban Berat, siswa Guru Buddha, Ananda, kembali dan menginformasikan kepada Prajapati, sang bibi, akan perkataan Sang Buddha. Prajapati menerima semua delapan peraturan tanpa keberatan. Dengan suka cita, ia berkata:
“Saya menerima semua Delapan Kewajiban Berat, dan akan menaati tanpa melanggarnya sepanjang hidup saya, seperti seorang anak perempuan atau anak laki-laki yang menikmati kecantikannya, setelah mandi dan berkeramas, menerima kalung bunga melati atau lilac, menerimanya dengan tangannya dan meletakkannya di atas kepalanya.”

Terlepas dari peraturan yang bersifat diskriminasi terhadap kaum wanita ini, lebih lanjut Sang Buddha menyampaikan pandangan Beliau di masa yang akan datang bahwa karena penahbisan kaum wanita maka Kehidupan Suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma Yang Mulia hanya akan bertahan dari 1000 tahun menjadi 500 tahun. Hal ini dinyatakan pada bagian dalam Tripitaka berikut:

Pada saat itu, Y.M. Ananda pergi menemui Sang Bhagava. Setelah duduk disalah satu sisi, Ia berkata kepada Sang Bhagava, “Yang Mulia, Mahaprajapati Gautami menerima Delapan Kewajiban Berat. Sekarang bibi dari Yang Mulia telah ditahbiskan.” Sang Bhagava berkata kepada Ananda, “ Ananda, apabila wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata, Kehidupan Suci akan berlangsung dalam masa yang lama sekali dan Dhamma Yang Mulia akan bertahan seribu tahun lamanya. Tetapi sejak wanita diizinkan meninggalkan kehidupan duniawi, maka Kehidupan Suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma Yang Mulia hanya akan bertahan selama lima ratus tahun. Ananda dalam agama manapun ketika kaum wanitanya ditahbiskan, maka agama tersebut tidak akan bertahan lama. Seperti perumpamaan ini, Ananda, rumah yang dihuni oleh lebih banyak wanita dan laki-lakinya sedikit akan mudah dirampok. Demikian pula dimana Ajaran dan Peraturan yang mengizinkan wanita meninggalkan Kehidupan Suci tidak akan bertahan lama. Dan seperti seorang laki-laki yang akan membangun terlebih dahulu sebuah bendungan yang besar sehingga dapat menampung air, demikian pula Tathagata membentenginya dengan Delapan Peraturan Utama untuk Sangha Bhikkhuni, yang tidak boleh dilanggar selama hidup mereka.” (Vin. II, 256)

Tentu saja, Buddhis yang terlatih secara tradisional membenarkan bahwa pesan di atas tersebut merupakan kutipan aktual dari sabda Sang Buddha. Oleh karena itu, mereka menerima dan mengartikannya bahwa kaum wanita lebih rendah dari kaum pria, dan mereka adalah penyebab kehancuran agama.

Jika hal ini benar, maka hanya ada satu kesimpulan: Sang Buddha adalah seorang seksis (orang yang bersikap diskriminasi terhadap gender/jenis kelamin). Namun, kata “seksis” terlalu keras bagi sebagian besar umat Buddha. Tidak seorang Buddhis tradisional pun yang akan menerima prasangka terhadap Sang Buddha seperti itu. Sebaliknya, mereka pada umumnya menantang untuk mempertahankan pesan dari Delapan Kewajiban Berat, dengan mengklaim, “Demikianlah jalannya. Ini adalah Dharma Universal, dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain menerimanya sebagai pesan asli Sang Buddha.”

Penafsiran fundamentalis ini telah mengisolasi umat Buddha dari kepercayaan akan demokrasi yang berdasarkan pada hak azasi manusia dan persamaan gender. Buddhisme menjadi alat yang digunakan untuk memojokkan setengah dari populasi dunia. Orang-orang terpelajar sering berpaling dari Buddhisme karena tidak menyukainya setelah mereka melihat agama ini merupakan bagian dari masalah bukan sebagai solusi untuk kemajuan sosial.

Namun, cara lain untuk menjawab pertanyaan ini yaitu melalui pembacaan Tripitaka secara kritis. Inilah metodologi/cara dari para sarjana modern. Hal ini akan menunjukkan secara jelas penggambaran yang berbeda terhadap sikap Sang Buddha terhadap kaum wanita. Menurut bagian lain dari Tripitaka, Delapan Kewajiban Berat bertentangan dengan prinsip belas kasih dan sifat alami manusia. Menurut versi Sang Buddha mengenai Genesis (asal usul), karakteristik perempuan dan lelaki muncul sebagai akibat dari kemerosotan dunia fisik yang berkelanjutan, dimana, karakteristik itu bukanlah sifat alami sejati dari apa sesungguhnya kita. Karena jenis kelamin hanya merupakan penampilan luar dari sifat alami sejati kita, maka baik pria maupun wanita dengan kemampuan yang sama sanggup untuk mencapai Percerahan Sempurna.

Lebih lanjut, ketika bagian dari Tripitaka ini – legenda asal muasal Sangha Bhikkhuni dan Delapan Kewajiban Berat – dibandingkan dengan bagian lain dari Tripitaka, terdapat banyak perbedaan dan pertentangan. Sebagai contoh, di dalam Buku Theragatha dan Therigatha ( syair yang disusun oleh para bhikkhu dan bhikkhuni yang tercerahkan) kita melihat sebuah situasi di mana seorang bhikkhu menjadi tercerahkan oleh pengajaran dari seorang bhikkhuni, yang kemudian dihormati seperti ibunya. Hal ini bertentangan dengan peraturan terakhir dari Delapan Kewajiban Berat , dimana melarang seorang bhikkhuni untuk mengajar seorang bhikkhu.

Juga, perkataan “untuk selanjutnya” ( dalam peraturan nomor 8 ) memberi kesan bahwa sebelumnya telah terjadi dimana para bhikkhuni memberikan pengajaran kepada para bhikkhu, dan peraturan dikeluarkan untuk menghentikan kegiatan itu atas nama Sang Buddha. Hal ini didukung pula oleh perumpamaan “bendungan” yang digunakan di bagian akhir kisah itu. Bagian dari kisah ini menceritakan mengenai sebuah bendungan yang dibangun untuk menjaga ladang-ladang padi dan tebu di India ketika seorang petani menemukan ladang-ladang tersebut sedang diserang hama padi atau debu merah. Bendungan harus dibangun secepatnya setelah petani itu menemukan gangguan hama itu, tapi tidak lebih awal dari itu. Penggunaan perumpamaan tersebut bertentangan dengan logika terhadap kondisi yang ada, dimana peraturan tersebut dikeluarkan sebelum Sangha Bhikkhuni terbentuk. Seharusnya, Delapan Kewajiban Berat ini dikeluarkan beberapa waktu setelah pembentukan Sangha Bhikkhuni. Hubungan kecil ini memberikan pesan bahwa legenda Delapan Kewajiban Berat telah disisipkan di dalam Tripitaka sebagai bagian dari ajaran Sang Buddha. Dan nampak Kewajiban tersebut merupakan pekerjaan para bhikkhu generasi lebih muda yang memiliki sikap negatif terhadap kaum wanita.

Di bagian lain dalam Tripitaka, kita tidak melihat adanya bukti tentang tindakan para bhikkhuni sebagai suatu penyebab dari kemunduran Buddhisme. Sebaliknya, beberapa sutra, pada masa sebelum wafatnya Sang Buddha, tidak pernah menguraikan sebuah kunjungan seorang raja kepada seorang bhikkhu dalam rangka mempelajari Dharma. Namun, tiga referensi dalam Tripitaka menyebutkan kunjungan seorang raja untuk bertemu seorang bhikkhuni ketika Sang Buddha masih hidup. Dalam salah satu kisah, Raja Pasenadi dari Kosala memuji di depan Sang Buddha akan kemampuan mengajar Bhikkhuni Khema; ia mengklaim bahwa pengajarannya sebagus Guru Buddha sendiri!

Juga, di dalam Buku Theragatha dan Therigatha, kita melihat bahwa para bhikkhuni lebih aktif dibanding para bhikkhu dalam menyebarkan Dharma. Sementara para bhikkhu cenderung untuk menikmati hidup menyendiri dibanding tinggal dalam komunitas, para bhikkhuni mempunyai ikatan komunitas yang kuat dimana mereka sangat disibukkan dengan mengajar dan belajar. Salah satu bagian bahkan menguraikan seorang bhikkhuni yang menyatakan dengan berani kepada publik, datang dan dengarkan ajaranku! Ungkapan “evangelis” seperti itu tidak diuraikan dalam Tripitaka yang diarahkan kepada para bhikkhu manapun. Buku Therigatha adalah literatur keagamaan pertama yang dikenal dunia yang diketahui disusun oleh kaum wanita. Buku itu memperlihatkan periode pada sejarah awal Buddhism ketika kaum wanita menikmati persamaan hak dengan rekan pria mereka.

Serpihan-serpihan kecil bukti ini yang tersebar dalam Tripitaka mengkonfirmasikan bahwa ajaran asli Sang Buddha tidak meninggikan kaum pria di atas kaum wanita. Malangnya, meskipun demikian, unsur-unsur seksisme menemukan jalan masuk ke dalam masyarakat Buddhis segera setelah wafatnya Guru Buddha dalam rangka memperkuat status superior kaum pria atas kaum wanita. Delapan Kewajiban Berat , seperti yang telah diformulasikan dalam legenda asal muasal Sangha Bhikkhuni, menjadi alat sosial untuk mendapatkan kendali atas para bhikkhuni yang banyak dari mereka merupakan guru-guru terkemuka dan cukup sukses mencerahkan beberapa bhikkhu.

Peraturan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari kanon Buddhis, tetapi diwajibkan dalam Sangha Bhikkhuni melalui pernyataan dan pengulangan setiap dua minggu. Periode penindasan para bhikkhuni dicurigai memiliki sedikit generasi penerus terakhir sebelum akhirnya Sangha Bhikkhuni menghilang dari India. Tidak lama sebelum Buddhisme ikut menghilang. Hipotesa ini diperkuat ketika membandingkan Buddhisme dengan Jainisme, atau “saudari” dari Buddhisme, yang ditemukan oleh Mahavira, seorang pemimpin spiritual sejaman dengan Sang Buddha.

Seperti Buddhisme, Jainisme dipandang sebagai heterodoks (menyimpang) oleh orang Hindu dan kemudian oleh orang Muslim. Masyarakat Buddhis dan masyarakat Jain berbagi struktur yang sama, terdiri atas para biarawan, biarawati, umat awam pria dan wanita; umat Buddhis memuja patung Sang Buddha, sedangkan umat Jain memuja patung Mahavira.

Selagi Buddhisme menghilang dari India, Jainisme tidak menghilang. Banyak sejarahwan menyalahkan penindasan orang Muslim atas pemadaman Buddhisme di tanah airnya sendiri, tetapi teori ini tidak bisa menjelaskan mengapa Jainisme juga tidak dibinasakan mengingat kedua agama tersebut memiliki posisi yang sama dihadapan orang Muslim. Perbedaan yang berarti terletak pada perlakuan terhadap para biarawati: dalam Jainisme, para biarawati tidak didiskriminasikan seperti di Buddhisme. Sekarangpun, biarawati dalam Jainisme menikmati kebebasan mereka dalam pengajaran yang sepadan dengan rekan pria mereka. Tidak ada peraturan Delapan Kewajiban Berat di dalam ajaran Mahavira.

Dalam penerangan analisa ini, bukti menunjuk kepada fakta bahwa seksisme dalam masyarakat Buddhis bertanggung jawab atas hancur dan padamnya agama Buddha dari tanah airnya sendiri. Ini adalah hasil dari karma yang dilakukan oleh para bhikkhu seksis dari generasi belakangan segera setelah Sang Buddha wafat.
Diskriminasi seksual atau seksisme sama sekali bukan bagian dari ajaran asli Sang Buddha, ajaran yang tidak akan menyingkirkan siapapun. Guru Buddha, dapat kita simpulkan, bukanlah seorang seksis.

Sangat disayangkan, sekarang ini karma seksisme masih kuat dan sehat di banyak negara-negara Buddhist seperti Srilanka, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Laos. Hanya beberapa komunitas di Sri Lanka yang menahbiskan kaum wanita.

Di tempat lain di Asia Tenggara, penahbisan kaum wanita adalah ilegal. Sebagai contoh, Dewan Sangha Raja di Thailand, mengumumkan di depan publik bahwa bhikkhu manapun yang mendukung penahbisan kaum wanita akan dijatuhi hukuman yang berat.

Meskipun demikian, dalam tradisi Theravada secara keseluruhan, Delapan Kewajiban Berat diikuti dengan penuh keyakinan sebagai sabda asli Guru Buddha.
Di negara-negara Theravada, agama Buddha belum pernah menjadi pendukung hak azasi manusia dan keadilan sosial. Sepanjang tidak ada reformasi sistem pendidikan agama dalam Buddhisme dan Tripitaka, agama akan tetap menjadi rintangan terbesar untuk pengembangan demokrasi dan keadilan sosial dalam negara-negara ini.

Keterangan :
Bhikkhu Mettanando adalah seorang bhikkhu Thailand yang sebelumnya adalah seorang dokter. Ia belajar di Universitas Chulalongkorn, Oxford dan Harvard, dan mendapat gelar PhD dari Universitas Hamburg. Beliau adalah penasihat khusus urusan agama Buddha pada sekretaris-jenderal World Conference of Religions for Peace.

Sumber: Bangkok Post, 9 Mei 2006
Judul asli: Was the Lord Buddha a Sexist?
Oleh: Bhikkhu Mettanando
Diterjemahkan dan Online di : Bhagavant.com