Setelah pertemuan Klasik antara Buddhisme dan Kebudayaan Barat menghasilkan Seni Buddha-Yunani, pertemuan pertama antara orang Eropa dan Buddhisme terjadi pada Abad Pertengahan ketika bruder Fransiskan Willem van Ruysbroeck dikirim sebagai duta ke istana Mongolia milik Monke oleh Raja Perancis Santo Louis pada tahun 1253. Kontak ini terjadi di Cailac (sekarang Qayaliq di Kazakhstan), dan Willem pertama-tama mengira bahwa mereka adalah orang Kristen yang sudah mutakhir dan canggih (Foltz, “Religions of the Silk Road”).
Namun ketertarikan utama bagi Buddhisme muncul selama zaman kolonial, ketika kekuasaan Barat berada di posisi untuk menyaksikan kepercayaan dan manifestasi artistiknya secara terperinci. Filsafat Eropa dengan kuat dipengaruhi oleh penelitian agama Timur saat itu.
Dibukanya Jepang untuk orang asing pada tahun 1853 juga membuat minat untuk meneliti sastra dan kebudayaan Jepang berkembang, dan merupakan akses yang sangat baik kepada salah satu kebudayaan Buddha yang terbesar di dunia.
Buddhisme mulai menikmati minat kuat dari penduduk umum di belahan barat dunia selama abad ke-20, mengikuti kegagalan utopia sosial yang terlihat, dari Fasisme ke Marxisme. Sesudah Perang Dunia II, fokus kemajuan cenderung bergeser ke perkembangan pribadi, baik pada sisi rohani maupun jasmani.
Dalam konteks ini, Buddhisme sudah menunjukkan daya tarik kuat, karena toleransinya, ketiadaan konsep autoritas Ketuhanan dan determinisme, dan fokusnya terhadap perkembangan jalan-jalan pribadi menuju penerangan (dan keselamatan).